BUKANLAH CINTA
Yang aku tau hatiku mencintaimu,
tapi aku sadar perasaan yang aku miliki ini bukanlah cinta seperti yang
orang-orang koar-koarkan selama ini. Bukan pula cinta yang sering diceritakan
dalam- dongeng-dongeng.
Yang aku alami ini bukanlah cinta
seperti dalam negeri dongeng. Kisah Cinderella, putri yasmin, siburuk dan si
jelita, atau cerita-cerita dalam FTV yang sekarang ini lagi naik daun, sang
konglomerat jatuh cinta pada loper Koran, atau sejenisnya lah…. Semua itu hanya
ada dalam imajinasiku.
Cinta. Sebenarnya aku sangat
membenci perasaan ini. Karna kapan aku jatuh cinta, maka logikaku sering kali
tergoyah bahkan menjadi tumpul.
Aku sangat tidak ingin jatuh
cinta. Cinta membuatku bodoh.
Saat ini yang aku inginkan
hanyalah lepas dari perasaan ini. Oh, aku membenci perasaan ini bukan karna aku
tak menginginkan cinta. Omong kosong, semua orang butuh cinta, bahkan dalam
alquran pun hal itu dijelaskan. Hanya saja, cinta seperti dalam impianku
rasanya tak pernah nyata, aku memimpikan cinta sejati. Cinta yang benar-benar
cinta, cinta yang tumbuh dari hati, cinta pada cinta dan saling menintai.
Aku mendambakan cinta seperti
Rasullullah kepada khadijah dan begitupun sebaliknya.
Hahahah… aku tau, aku ini terlalu
naïf memimpikan cinta seperti cinta yang dimiliki Rasullullah kepada Khadijah,
memangnya apa istimewanya aku hingga berani memimpikan cinta yang begitu agung?
Khadijah sudah jelas wanita yang sangat mengagumkan, tak sepantasnya aku ingin
menyaingi dirinya dalam mendapatkan cinta!
Okelah, aku tak seluar biasa
wanita pertama yang memeluk islam itu, tapi paling gak, aku ingin melihat bukti
cinta yang nyata dalam kehidupan nyata.
Selama ini sepanjang perjalanan
hidupku, aku belum menjumpai cinta seperti yang orang-orang ceritakan. Bahkan
cinta ibu kepada anaknya. Yah,, itu episode yang berbeda, akan aku ceritakan
kapan-kapan. Saat ini kita kembali dulu pada cerita tentang perasaanku terhadap
seorang lawan jenisku.
Tentu saj aku memimpikan sebuah
cinta. Cinta yang indah, cinta yang bahagia. Tapi entah kapan cinta itu akan
dating menghampiriku.
Namanya furqan. Yah.. orang aku
bicarakan dari tadi, namanya furqan.
Dialah orang yang telah
menyiksaku seperti ini.
Dia terlalu bodoh untuk memahami
apa yang aku rasakan terhadapnya. Karnanya aku simpulkan aku tak akan menikah
dengannya. Jika aku kelak menikah dengannya aku jamin bakalan makan hati tiap
hari, makan hati yang bikin kurus, bukan hati yang bikin gemuk. Hahah :D
Meskipun aku saaaaaangat-sangat
bahagia selagi bersamanya, tapi dia tidak mengerti hal itu. Dia tidak mengerti
arti perasaan dia hanya mengerti sesuatu seperti jam, lama waktu berkunjung,
atau tujuan kenapa dia berkunjung, atau hal-hal menyebalkan sejenis itu. Dia
sama sekali tidak mengerti tentang perasaan. Tentang suatu naluri. Tentang
hasrat, tentang rasa sepi, tentang kekosongan, tentang kerinduan.
Aku merindukannya setiap saat.
Aku tau itu salahku. Jadi bukan salahnya jika dia tidak dapat hadir ketika aku
begitu merindukannya, karna aku merindukannya setiap detik. Hahaha :D karnanya
aku mendesaknya untuk menikah segera, agar kami bisa selalu bersama tiap waktu.
Tapi dia saat yang sama, aku juga menolak sekuat tenaga perasaanku padanya. Aku
menolak menginginkannya. Aku mengingkari kemauanku dan aku berharap tak pernah
bertemu dengannya.
Aku begitu teromabang ambing
dalam perasaanku sendiri ini bukan karna dia tak mencintaiku, tapi karna aku
tak mau dicintai olehnya.
Cintanya membuatku lemah
sementara logikaku menolaknya habis-habisan. Dia bukan orang yang aku cari.
Jika sedang bersamanya, aku
seribu kali lipat merindukannya dan menginginkannya menjadi suamiku. Tapi saat
aku tak bersamanya, seribukali pula aku ingin melupakannya.
Jika tiap detik aku
merindukannya, maka tiap detik pula aku berdoa agar aku bisa melupakannya.
Aku ingin cepat-cepat sarjana,
menyelesaikan studiku dikota ini agar aku bisa cepat-cepat meninggalkan kota
ini, menjauh darinya. Pergi entah kemana asalkan bukan disini, mencari
kesibukanku sendiri, bertemu dengan banyak orang, mengenal banyak orang dan
kembali jatuh cinta pada orang yang tepat.
Aku igngin melupakan cerita
cintaku dengannya, cerita cinta yang dipenuhi air mata.
Ak ingin cinta yang bahagia, yang
membuatku tetap tersenyum meski jarak memisahkan. Cinta yang mampu membuatku
mencitai dengan tulus. Cinta yang bisa membuatku bahagia apapun keadaanku.
Aku tidak menyangkal kebahagiaan
yang aku rasakan selama bersama furqan, hanya saja bahagianya begitu semu.
Bahagia hanya ketika dia ada, jika dia pergi, lenyap pula bahagia itu. Dia
adalah pelangiku.
Aku mendambakan cinta yang
seperti langit kepada bumi. Apapun keadaanya tetap setia memayungi bumi.
Aku mendambakan langitku, dan
furqan hanya pelangiku, yang member kebahagiaan semu.
Aku berusaha mencari jalan cintaku
sendiri, tapi hingga saat ini belum ada yang benar-benar aku inginkan untuk
menjadi pendamping hidupku.
Menikah. Menikah adalah kehidupan
yang kompleks. Aku harus hati-hati menentukan siapa suamiku. Jika salah
memilih, masa depanku dipertaruhkan.
aku benar-benar serba salah saat
ini. Jika memang jodoh adalah cinta sejati kita. Kalo memang jodoh pasti
bertemu, jika memang jodoh sudah ditetapkan oleh Allah, maka buat apa kita
berinteraksi dengan orang lain dengan tujuan mecari mendamping hidup? Lalu
kenapa manusi mesti resah memilih dan memilih pasangan hidup? Bukankah yang
Allah pilihkan buat kita pasti sudah tentu benar dan terbaik?
Lalu, pertanyaannya. Kenapa
dengan beberapa orang yang aku kenal, cantik, pintar, punya pekerjaan yang
memadai (wanita) tapi hingga kini (usia 35 tahun) masih belum juga menikah?
Kini dia menjadi buah bibir diantara orang-orang sekitar.