hm... sampai mana ceritanya kemaren? ah, ya.. sampai Isty, sahabat Dera datang menemui Dera setelah mendengar kabar Duka kematian Erik. Dera sedih bukan main. Nah, sekarang Mimin akan lanjut ceritanya, apakah Dera mampu melewati hari-harinya tanpa Erik?! Cekidot......!!! ^____^
Bayangan Masa Lalu #2
Dera tidak tau
harus berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia
lalu menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak
mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam
dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung
mendatangi rumah Dera. Mendengar suara tangisan dera dari luar, isty tanpa
mengetuk langsung masuk dan mendapati dera sedang duduk tersungkur dibawah
sofa. Siapapun yang melihatnya pasti akan miris perasaanya. Isty tak tega
melihat sahabatnya. Dia coba untuk menenangkan Dera, isty membuatkan teh hangat
manis. Dera yang mulai lemas karna menangis, nurut saja ketika isty menyuguhkan
teh tersebut untuk diminumnya.
Setelah beberapa
menit, Dera sudah agak tenang. Dia suda bisa menguasai emosinya meski air mata
masih tetap mengalir dari matanya. “ty, kamu tau dimana erik sekarang? Gw mau
ketemu dia ty. U maukan temanin gw kesana ty?” dera memelas
“pasti ra aku
temanin kamu kesana. Tadi erik dalam perjalanan ke rumahnya, mungkin sekarang
dia udah sampai. Jadi kita langsung ke rumahnya saja yah” ist mengusulkan. Dera
hanya mengangguk. Setelah mengganti pakean, dera dan isty langsung menuju rumah
duka.
Sampai disana, Dera
tak mampu menahan air matanya lagi. Meski sudah tak sehisteris tadi, tapi dera
mulai menangis lagi. Dia mendekati jenajah yang diam tak bergerak itu.
“rik… maafin aku.
Rik, kok kamu pergi gak pamit-pamit ma aku? Kamu kan janji kemanapun pasti
pamit. Kemarin kamu janji, gak akan ninggalin aku sendiri lagi, mulai sekarang
kemanapun pergi kamu selalu akan mengajakku. Tapi kenapa sekarang kamu pergi
rik?” dera mulai terisak-isak disamping tubuh kekasihnya. Naidah, Ibunda erik,
merasa pilu mendengarucapan calon mantunya itu. Karna bagia Bunda Naidah. Dera
sudah seperti anak sendiri, karma kebetulanya Bunda Naidah juga masih ada
hubungan kerabat dengan Ibunya Dera. Bunda Naidah memeluk Dera, mereka saling
menguatkan. “tante, semalam erik janji ma aku, dia gak akan ninggalin aku
lama-lama lagi. Cukup sebulan kemarin itu saja. Setelahnya kami akan selalu
berpergian bersama tante” Dera meracau tak jelas membuat Bunda Naidah semakin
pilu hatinya. Beberapa jam kemudian, Ibu Mila, Ibunya Dera datang melayat. Dia
segera menenangkan Dea yang masih saja menangis. “Ibu, kenapa tuhan mengambil
erik secepat ini Bu?” dera mengeluh dipelukan Ibunya. Ibu mila mera terenyuh
melihat kesedihan anaknya. Dia mengajak dera dalam kamar untuk istirahat. Karna
Zenajah akan dimandikan sebelum dikebumikan.
“sabar yah
sayang,,,, semua pasti ada hikmahnya. Tuhan pasti punya rencana yang indah di
balik ini semua” Ibu Mila berusaha menghibur anaknya.
“tapi Ibu, Erik
belum mau pergi. Dia masih punya banyak janji sama aku”
“iya sayang..
kematian itu bukanlah suatu yang bisa kita atur. Kita ingin milik Tuhan, jadi
kapan saja Tuhan memanggil kita, kita gak bisa mengelak” Ibu Mila menjelaskan
seperti halnya menjelaskan pada anak kecil. Dera bukanya tak tahu hal itu,
hanya saja kesedihan yang mendalam membuatnya tak bisa menerima kejadian ini.
Dera terus meracau dan menangis hingga ahirnya tertidur kelelahan.
Menjelang subuh,
Dera terbangun dan berharap semuanya hanya mimpi. Namun keada sekitar rumah
yang ramai, kenyataan bahwa dia sedang tertidur dikamarnya erik, membuatnya
sadar bahwa kejadian semalam itu benar-benarnyata. Dera yang sudah gak tenang,
melangkah ke kamar mandi, berwudlu lalu menunaikan sholat dua rakaat. Dia
medoakan kebaikan untuk kekasihnya. Dia menagis dalam sholatnya, seluruh do’a
dan ayat yang dia hafal, dia layangkan untuk mendoakkan erik. berharap orang
yang dicintainya bisa bahagia di alam sana.
Selepas acara
penguburan, Dera dan Ibunya langsung pamit untuk pulang ke Solo, rumah Ibunya.
Bunda Naidah menawarkan untuk menginap sehari dua hari lagi, namun Dera
menolak, dengan alasan akan semakin sedih bila melihat barang-barangnya,
foto-foto mereka berdua dikara erik. Bunda Naidah mengerti dan melepas
kepergian mereka.
Dera sengaja pulang
ke Solo karna belum sanggup tinggal sendiri dirumah kontrakannya di jogja. Dia
takut akan larut dalam kesedihan bila sendirian.
Ahirnya Dera
melanjutkan studinya di Solo dengan jurusan yang sama, teknik Arsitektur, karna
tak sanggup kembali di Jogja, erlalu banyak kenangan yang mengingatkannya pada
erik disana.
Sekarang, meski
sudah 3 tahun berlalu sejak kejadian itu. Meski Dera sudah terlihat baik-baik
saja, tetap saja nama erik dan kenangan tentang mereka masih tersimpan rapi
dalam hatinya. Kadang-kadang dalam sholat malamnya, kenangan itu masih sering
mengundang air matanya.
Keputusannya untuk
menjadi guru SD awalnya sangat ditentang oleh Ayahnya. Sang ayah merasa buah
hatinya memiliki potensi untuk melakukan hal lebih sebagai ST, bahakan Dera
termasuk mahasiswa terbaik dari kampusnya. Banyak orang yang menyayangkan
keputusannya untu menjadi guru SD di daerah terpencil tersebut. Hanya sang Ibu
yang mengerti perasaanya. Sang Ibu membantunya meyakinkan sang Ayah bahwa itu
yang terbaik bagi Dera, yang akan membuatnya bahagia. Hingga ahirnya dengan
berat hati sanga ayah mengantarkan buah hatinya di daerah terpencil itu.
Berada ditengah
anak-anak sangat membantu Dera untuk menghibur hatinya. Kadang-kadang dia
teringat obrolan-obrolan panjang mereka saat bersama “ay, ntar kalo dah nikah,
mau punya anak berapa?” Dera menggoda Erik
“gimana kalo
tujuh?”
“gak kebanyakan
tuh?” Dera tertawa
“kan biar rame
sayang. Bila perlu kembar” lalu mereka tertawa terbahak-bahak
“aku maunya ntar
kita tinggal di pinggir kota, rumah mungil tapi halamannya gede” ucap Dera
suatu kali
“kenapa bukan
dikota?” Tanya erik meski sebenarnya dia sudah tau kanapa.lima tahun
kebersamaan mereka membuat Erik sangat memahami Dera.
No comments:
Post a Comment