Tuesday, 1 July 2014

Bayangan Masa Lalu #2

oke, Mimin kembali lagi....
hm... sampai mana ceritanya kemaren? ah, ya.. sampai Isty, sahabat Dera datang menemui Dera setelah mendengar kabar Duka kematian Erik. Dera sedih bukan main. Nah, sekarang Mimin akan lanjut ceritanya, apakah Dera mampu melewati hari-harinya tanpa Erik?! Cekidot......!!! ^____^

Bayangan Masa Lalu #2
Dera tidak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia lalu menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung mendatangi rumah Dera. Mendengar suara tangisan dera dari luar, isty tanpa mengetuk langsung masuk dan mendapati dera sedang duduk tersungkur dibawah sofa. Siapapun yang melihatnya pasti akan miris perasaanya. Isty tak tega melihat sahabatnya. Dia coba untuk menenangkan Dera, isty membuatkan teh hangat manis. Dera yang mulai lemas karna menangis, nurut saja ketika isty menyuguhkan teh tersebut untuk diminumnya.
Setelah beberapa menit, Dera sudah agak tenang. Dia suda bisa menguasai emosinya meski air mata masih tetap mengalir dari matanya. “ty, kamu tau dimana erik sekarang? Gw mau ketemu dia ty. U maukan temanin gw kesana ty?” dera memelas
“pasti ra aku temanin kamu kesana. Tadi erik dalam perjalanan ke rumahnya, mungkin sekarang dia udah sampai. Jadi kita langsung ke rumahnya saja yah” ist mengusulkan. Dera hanya mengangguk. Setelah mengganti pakean, dera dan isty langsung menuju rumah duka.
Sampai disana, Dera tak mampu menahan air matanya lagi. Meski sudah tak sehisteris tadi, tapi dera mulai menangis lagi. Dia mendekati jenajah yang diam tak bergerak itu.
“rik… maafin aku. Rik, kok kamu pergi gak pamit-pamit ma aku? Kamu kan janji kemanapun pasti pamit. Kemarin kamu janji, gak akan ninggalin aku sendiri lagi, mulai sekarang kemanapun pergi kamu selalu akan mengajakku. Tapi kenapa sekarang kamu pergi rik?” dera mulai terisak-isak disamping tubuh kekasihnya. Naidah, Ibunda erik, merasa pilu mendengarucapan calon mantunya itu. Karna bagia Bunda Naidah. Dera sudah seperti anak sendiri, karma kebetulanya Bunda Naidah juga masih ada hubungan kerabat dengan Ibunya Dera. Bunda Naidah memeluk Dera, mereka saling menguatkan. “tante, semalam erik janji ma aku, dia gak akan ninggalin aku lama-lama lagi. Cukup sebulan kemarin itu saja. Setelahnya kami akan selalu berpergian bersama tante” Dera meracau tak jelas membuat Bunda Naidah semakin pilu hatinya. Beberapa jam kemudian, Ibu Mila, Ibunya Dera datang melayat. Dia segera menenangkan Dea yang masih saja menangis. “Ibu, kenapa tuhan mengambil erik secepat ini Bu?” dera mengeluh dipelukan Ibunya. Ibu mila mera terenyuh melihat kesedihan anaknya. Dia mengajak dera dalam kamar untuk istirahat. Karna Zenajah akan dimandikan sebelum dikebumikan.
“sabar yah sayang,,,, semua pasti ada hikmahnya. Tuhan pasti punya rencana yang indah di balik ini semua” Ibu Mila berusaha menghibur anaknya.
“tapi Ibu, Erik belum mau pergi. Dia masih punya banyak janji sama aku”
“iya sayang.. kematian itu bukanlah suatu yang bisa kita atur. Kita ingin milik Tuhan, jadi kapan saja Tuhan memanggil kita, kita gak bisa mengelak” Ibu Mila menjelaskan seperti halnya menjelaskan pada anak kecil. Dera bukanya tak tahu hal itu, hanya saja kesedihan yang mendalam membuatnya tak bisa menerima kejadian ini. Dera terus meracau dan menangis hingga ahirnya tertidur kelelahan.
Menjelang subuh, Dera terbangun dan berharap semuanya hanya mimpi. Namun keada sekitar rumah yang ramai, kenyataan bahwa dia sedang tertidur dikamarnya erik, membuatnya sadar bahwa kejadian semalam itu benar-benarnyata. Dera yang sudah gak tenang, melangkah ke kamar mandi, berwudlu lalu menunaikan sholat dua rakaat. Dia medoakan kebaikan untuk kekasihnya. Dia menagis dalam sholatnya, seluruh do’a dan ayat yang dia hafal, dia layangkan untuk mendoakkan erik. berharap orang yang dicintainya bisa bahagia di alam sana.
Selepas acara penguburan, Dera dan Ibunya langsung pamit untuk pulang ke Solo, rumah Ibunya. Bunda Naidah menawarkan untuk menginap sehari dua hari lagi, namun Dera menolak, dengan alasan akan semakin sedih bila melihat barang-barangnya, foto-foto mereka berdua dikara erik. Bunda Naidah mengerti dan melepas kepergian mereka.
Dera sengaja pulang ke Solo karna belum sanggup tinggal sendiri dirumah kontrakannya di jogja. Dia takut akan larut dalam kesedihan bila sendirian.
Ahirnya Dera melanjutkan studinya di Solo dengan jurusan yang sama, teknik Arsitektur, karna tak sanggup kembali di Jogja, erlalu banyak kenangan yang mengingatkannya pada erik disana.
Sekarang, meski sudah 3 tahun berlalu sejak kejadian itu. Meski Dera sudah terlihat baik-baik saja, tetap saja nama erik dan kenangan tentang mereka masih tersimpan rapi dalam hatinya. Kadang-kadang dalam sholat malamnya, kenangan itu masih sering mengundang air matanya.
Keputusannya untuk menjadi guru SD awalnya sangat ditentang oleh Ayahnya. Sang ayah merasa buah hatinya memiliki potensi untuk melakukan hal lebih sebagai ST, bahakan Dera termasuk mahasiswa terbaik dari kampusnya. Banyak orang yang menyayangkan keputusannya untu menjadi guru SD di daerah terpencil tersebut. Hanya sang Ibu yang mengerti perasaanya. Sang Ibu membantunya meyakinkan sang Ayah bahwa itu yang terbaik bagi Dera, yang akan membuatnya bahagia. Hingga ahirnya dengan berat hati sanga ayah mengantarkan buah hatinya di daerah terpencil itu.
Berada ditengah anak-anak sangat membantu Dera untuk menghibur hatinya. Kadang-kadang dia teringat obrolan-obrolan panjang mereka saat bersama “ay, ntar kalo dah nikah, mau punya anak berapa?” Dera menggoda Erik
“gimana kalo tujuh?”
“gak kebanyakan tuh?” Dera tertawa
“kan biar rame sayang. Bila perlu kembar” lalu mereka tertawa terbahak-bahak
“aku maunya ntar kita tinggal di pinggir kota, rumah mungil tapi halamannya gede” ucap Dera suatu kali
“kenapa bukan dikota?” Tanya erik meski sebenarnya dia sudah tau kanapa.lima tahun kebersamaan mereka membuat Erik sangat memahami Dera.

No comments:

Post a Comment