Bayangan Masa lalu
Siang itu dera
tampak capek, terlihat dari peluhnya yang meleleh sekitar wajahnya. Seharian ini
dia harus mengoreksi setumpuk buku PR murid-muridnya diruang guru yang tak
ber-AC itu, maklum dera bekerja disebuah Sekolah Dasar didaerah terpencil jadi
wajar saja bila fasilitasnya masih sangat minim jika tidak mau dibilang tidak
memadai. Tapi Dera sangat bersyukur diterima bekerja sebagai Guru Matematika di
SD itu. Bukan karna tidak ada suatu alas an khusus dea memilih tempat terpencil
seperti itu.
Setahun yang lalu,
ketika Dera resmi menyandang gelar S.T nya, Dera sudah memutuskan akan mengabdi
didaerah yang jauh sebagai Guru, sejauh yang bisa dia jangkau dari kota
tempatnya menghabiskan waktu sekitar lima tahun terahir ini, kota jogja. Alhasil,
sekarang dia terdampar disekolah menyedihkan ini, sekolah dasar di NTT,
kabupaten waingapu. Sekolah itu terletak sekitar 100 KM dari kota. Desa ini
masih sangat primitive, jangankan AC, air bersih saja masih sangat susah
didapatkan.
Keputusan untuk
pergi jauh ini terpaksa Dera ambil karena ingin menata kembali hatinya. Saat itu
hatinya sangat terluka akibat seseorang. Tepatnya tiga tahun yang lalu, ketika
dera masuk tahun ke empat studynya.
Kilasan masa lalu….
“sayang, lagi
dimana?” Dera tersenyum malu-malu membaca sms dari kekasih hatinya, dengan cepat
ditekanya tombol balas dan segera mengetik “di kampus. Kenapa?”
Beberapa detik
HPnya sudah bergetar kembali
“jamberapa
kuliahnya selse? Aku jemput yah”
“sekitar 15-an
menit lagi. Okeh”
Dera yang merasa
bahagia melmbung, dengan gelisah melanjutkan kuliah hari itu. Dia ingin segera
keluar kelas dan bertemu dengan kekasihnya tercinta. Rindu yang telah mnggunung
selama sebulan ini ingin segera dia lampiaskan. Selama sebulan mereka tak
bertemu tatap muka karna Erik, kekasihnya, harus berangkat ke Jepang dalam
rangka perjalanan studi. Erik yang kebetulan seorang mahasiswa jurusan
kebudayaan asing itu harus melakukan penelitian selama sebulan di Jepang
bersama dosen pembimbingnya.
Lima belas menit
berlalu, Dera segera merapikan buku-bukunya dan duduk manis depan jurusannya. Menunggu
erik tersayang.
“eh, Ra,
dengar-dengar erik udah balik yah dari Jepang?” salah satu temannya
menghampiri.
“iya, tadi malam”
Dera mengangguk sambil tersenyum
“cieee…. Yang lagi
nungguen pacar. Yang udah kangennya gak ketulungan..” isty, sahabatnya
menggodanya.
“apaan sih, biasa
aja” ucap dera menutupi perasaannya yang nyatanya sedang menggebu-gebu tak
karuan
“tuh…. Mukanya merah….
Senyumnya malu-malu gitu..” isty masih saja menggodanya. Membuat Dera semakin
salah tingkah.
Lewat dua puluh
menit, erik belum juga kelihatan. Isty sudah pulang sejak tadi. Buru-buru
katanya. Hari semakin sore, Dera kini sendirian, kampus semakin sepi, tapi
erikc belum juga muncul.
Dera mulai jengkel.
Dia lalu mengambil HPnya bermaksud untuk menghubungi erik. Ah sial, Hp-nya
lowbat. Komplit sudah rasa dongkol dihatinya Dera.
Dia mulai ngedumal
dalam hatinya. “kalo emang gak niat datang, ya jangan biarin aku nunggu gini
donk. Apa susahnya sih tinggal sms bilang ‘maaf sayang, aku gak jd datang, ada
yang harus aku urus’ ato gak tinggal bilang kan ‘aku gak jd datang, jangan
tunggu’ emangnya susah ya? Dia tau gak sih kalo aku nunggu?” Dera memutuskan
untuk pulang dan berjanji akan marah-marah ntar kalu ketemu dengan erik.
Sesampainya dirumah,
Dera langsung menuju kamar mandi, mandi, ingin mendinginkan kepala. Seperti kebiasaannya
kalo lagi jengkel, Dera mencari-cari es krim dalam kulkas. Makan es krim rasa
coklat memang sangat membatu meredakan emosi dihatinya Dera.
Tengah menikmati
eskrim sambil nonton, tiba-tiba dia teringat Hp nya yang lobat sejak sore tadi.
Rasa jengkelnya pada erik telah reda, digantikan dengan rasa kangen. Makanya dengan
segera dera men-cas Hp-nya, siapa tau erik akan menelponnya dan meminta maaf.
Dera sangat menikmati permintaaf maaf dari erik. karna jika Dera marah,
biasanya erik sadi sangat manis dan romantis. Dia jadi sangat memanjakan dera. Karnanya
sering kali dera pura-pura marah walaupun sebenarnya dia sudah tak merasa emosi
lagi.
Baru saja Hp
dinyalain, hp nya bordering, telpon masuk. Dari erik. dengan mimic pura-pura
ngambek, dera mengangkat telponnya. “Halo, rik kamu tadi kemana? Kok kamu
biarin aku nung….” Dera tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karna diseberang
justru terdengar suara isak tangis.
“halo?” ucap dera
heran.
“halo, dera. Ini
aku kak, ai” ternyata adekny Erik yang menelpon mengunakan hp-nya erik. dera
merasa ada yang salah. Tiba-tiba perasaan tidak menentu, antara takut dan
bingung. Dia sendiri tidak tau apa yang ditakutkannya. Firasat buruk
menguasainya.
Dera tak mampu
berkata-kata. Ai yang tak mendengar apapun, langsung melanjukan “kak Dera, Kak
Erik udah gak ada. Kak erik kecelakaan kak” ai mengatakannya dengan deraian air
mata.
Dera tidak tau harus
berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia lalu
menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak
mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam
dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung
mendatangi rumah Dera. Bersambung..... Tunggu cerita selanjutnya yaaahhhh..... :)


