Monday, 30 June 2014

Bayangan Masa Lalu

Bayangan Masa lalu
Siang itu dera tampak capek, terlihat dari peluhnya yang meleleh sekitar wajahnya. Seharian ini dia harus mengoreksi setumpuk buku PR murid-muridnya diruang guru yang tak ber-AC itu, maklum dera bekerja disebuah Sekolah Dasar didaerah terpencil jadi wajar saja bila fasilitasnya masih sangat minim jika tidak mau dibilang tidak memadai. Tapi Dera sangat bersyukur diterima bekerja sebagai Guru Matematika di SD itu. Bukan karna tidak ada suatu alas an khusus dea memilih tempat terpencil seperti itu.
Setahun yang lalu, ketika Dera resmi menyandang gelar S.T nya, Dera sudah memutuskan akan mengabdi didaerah yang jauh sebagai Guru, sejauh yang bisa dia jangkau dari kota tempatnya menghabiskan waktu sekitar lima tahun terahir ini, kota jogja. Alhasil, sekarang dia terdampar disekolah menyedihkan ini, sekolah dasar di NTT, kabupaten waingapu­. Sekolah itu terletak sekitar 100 KM dari kota. Desa ini masih sangat primitive, jangankan AC, air bersih saja masih sangat susah didapatkan.
Keputusan untuk pergi jauh ini terpaksa Dera ambil karena ingin menata kembali hatinya. Saat itu hatinya sangat terluka akibat seseorang. Tepatnya tiga tahun yang lalu, ketika dera masuk tahun ke empat studynya.
Kilasan masa lalu….
“sayang, lagi dimana?” Dera tersenyum malu-malu membaca sms dari kekasih hatinya, dengan cepat ditekanya tombol balas dan segera mengetik “di kampus. Kenapa?”
Beberapa detik HPnya sudah bergetar kembali
“jamberapa kuliahnya selse? Aku jemput yah”
“sekitar 15-an menit lagi. Okeh”
Dera yang merasa bahagia melmbung, dengan gelisah melanjutkan kuliah hari itu. Dia ingin segera keluar kelas dan bertemu dengan kekasihnya tercinta. Rindu yang telah mnggunung selama sebulan ini ingin segera dia lampiaskan. Selama sebulan mereka tak bertemu tatap muka karna Erik, kekasihnya, harus berangkat ke Jepang dalam rangka perjalanan studi. Erik yang kebetulan seorang mahasiswa jurusan kebudayaan asing itu harus melakukan penelitian selama sebulan di Jepang bersama dosen pembimbingnya.
Lima belas menit berlalu, Dera segera merapikan buku-bukunya dan duduk manis depan jurusannya. Menunggu erik tersayang.
“eh, Ra, dengar-dengar erik udah balik yah dari Jepang?” salah satu temannya menghampiri.
“iya, tadi malam” Dera mengangguk sambil tersenyum
“cieee…. Yang lagi nungguen pacar. Yang udah kangennya gak ketulungan..” isty, sahabatnya menggodanya.
“apaan sih, biasa aja” ucap dera menutupi perasaannya yang nyatanya sedang menggebu-gebu tak karuan
“tuh…. Mukanya merah…. Senyumnya malu-malu gitu..” isty masih saja menggodanya. Membuat Dera semakin salah tingkah.
Lewat dua puluh menit, erik belum juga kelihatan. Isty sudah pulang sejak tadi. Buru-buru katanya. Hari semakin sore, Dera kini sendirian, kampus semakin sepi, tapi erikc belum juga muncul.
Dera mulai jengkel. Dia lalu mengambil HPnya bermaksud untuk menghubungi erik. Ah sial, Hp-nya lowbat. Komplit sudah rasa dongkol dihatinya Dera.
Dia mulai ngedumal dalam hatinya. “kalo emang gak niat datang, ya jangan biarin aku nunggu gini donk. Apa susahnya sih tinggal sms bilang ‘maaf sayang, aku gak jd datang, ada yang harus aku urus’ ato gak tinggal bilang kan ‘aku gak jd datang, jangan tunggu’ emangnya susah ya? Dia tau gak sih kalo aku nunggu?” Dera memutuskan untuk pulang dan berjanji akan marah-marah ntar kalu ketemu dengan erik.
Sesampainya dirumah, Dera langsung menuju kamar mandi, mandi, ingin mendinginkan kepala. Seperti kebiasaannya kalo lagi jengkel, Dera mencari-cari es krim dalam kulkas. Makan es krim rasa coklat memang sangat membatu meredakan emosi dihatinya Dera.
Tengah menikmati eskrim sambil nonton, tiba-tiba dia teringat Hp nya yang lobat sejak sore tadi. Rasa jengkelnya pada erik telah reda, digantikan dengan rasa kangen. Makanya dengan segera dera men-cas Hp-nya, siapa tau erik akan menelponnya dan meminta maaf. Dera sangat menikmati permintaaf maaf dari erik. karna jika Dera marah, biasanya erik sadi sangat manis dan romantis. Dia jadi sangat memanjakan dera. Karnanya sering kali dera pura-pura marah walaupun sebenarnya dia sudah tak merasa emosi lagi.
Baru saja Hp dinyalain, hp nya bordering, telpon masuk. Dari erik. dengan mimic pura-pura ngambek, dera mengangkat telponnya. “Halo, rik kamu tadi kemana? Kok kamu biarin aku nung….” Dera tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karna diseberang justru terdengar suara isak tangis.
“halo?” ucap dera heran.
“halo, dera. Ini aku kak, ai” ternyata adekny Erik yang menelpon mengunakan hp-nya erik. dera merasa ada yang salah. Tiba-tiba perasaan tidak menentu, antara takut dan bingung. Dia sendiri tidak tau apa yang ditakutkannya. Firasat buruk menguasainya.
Dera tak mampu berkata-kata. Ai yang tak mendengar apapun, langsung melanjukan “kak Dera, Kak Erik udah gak ada. Kak erik kecelakaan kak” ai mengatakannya dengan deraian air mata.
Dera tidak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia lalu menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung mendatangi rumah Dera. Bersambung..... Tunggu cerita selanjutnya yaaahhhh..... :)

Sunday, 29 June 2014

Kisah Cinta Part#1

Kisah ini masih tentang cinta dan akan selalu menjadi kisah cinta.
Kisah ini berawal saat aku mulai belajar seni bela diri taek won do. Saat itulah aku bertemu dengannya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, mungkin itulah yang saat itu aku alami. Aku langsung terpaku oleh sorotan matanya. Tatapannya yang tajam namun dingin membuatku tak bisa menatapnya lebih dari sedetik.
“congre” teriakan sang pelatih gak terdengar olehku karna pikiranku seketika lumpuh karna melihat matanya. Tuukkk!! Tiba-tiba aku kepalaku kena jitak, ternyata aku sudah menjadi pusat perhatian gara-gara tidak mengikuti instruksi sang pelatih. Dengan perasaan malu aku buru-buru membungkukkan badan sesuai instruksi pelatih dan sambil mengucap “gamsammida”
“napa tadi? Kok kamu jadi salah tingkah gituh?” ai datang menghampiriku selepas latihan. Dia tampak kehausan, kehausan gossip maksudnya hahaha.
kisah Cinta
“ai, ternyata keputusan yang tepat kita berlatih taek won do disini” katanya dengan penuh semangat, semangat meneguk air mineral dari botol air minumku yang udah aku siapin dari rumah.
“napa mangnya” ai tampak semakin penasaran “ada yang kamu taksir ya?” langsung nebak aja dia.
“yap!” aku ngangguk senyum-senyum mirip iklan pepsodent di TV. “ahirnya aku temukan cowok yang tipe gw baangat ai. Dia anak baru kali ya, baru aku liat. Kenapa gak dari kemaren-kemarin sih aku dipertemukan ma dia. Matanya itu loh, benar-benar bikin aku jatuh cinta. Pokoknya mulai sekarang aku umumin sama kamu kalo aku jatuh cinta dengannya” aku menggebu-gebu seperti calon legilatif yang lagi kempanye.
“siapa? Yang mana?” ai tampak gak sabar untuk mengetahui klimaksnya.
“itu” aku menunjuk seseorang yang sedang melakukan pendinginan di tengah ruang latihan “yang baju putih”
“um…. Si putih itu. Itu mah dari kemarin-kemarin emang udah ada kali. Kamunya aja yang gak merhatiin” ai tampak kecewa.
“oh.. kok aku baru liat ya? Heheh :-p pokonya aku jatih cinta ma dia” aku senyum dan diam-diam memperhatikannya.
Sejak hari itu, lebih dari seribu kali dalam sehari aku menyebut dia dalam setiap kalimatku.
“ai, itu si putih (aku manggil dia si putih soalnya aku belum tau namanya saat itu) kira-kira angkatan berapa ya?” aku mulai membicarakannya tiap waktu. Ai hanya menanggapi seadaanya alia BOSAN. Bodo amat, hahaha:D
“ai, menurut mu si putih sukanya tipe cewe kaya gimana ya?”
“ai, kira-kira si putih suka gak ya ma gw?”
“ai, menurut mu itu si putih tinggal dimana?” pokoknya selalu si putih, si putih dan si putih kata yang aku ucapkan dalam hari-hariku, hingga puncaknya ai jadi sebel n jengkel ma aku, hehehe :-p
Oke, singkat cerita, sejak saat itu aku jadi selalu memperhatikannya. Berusaha melakukan sesuatu hingga bisa membuatnya menoleh padaku alias cari perhatian, selalu mencari alas an agar bisa bicara dengannya alias sok asik, cari-cari alas an agar bisa dapatin nomor hp_nya senatural mungkin (jangan sampae dia tau aku jatuh cinta setengah mati padanya). Yah begitulah, mirip orang lagi jatuh cinta pada umumnya, hahaahh :D dan sejauh yang aku tangkap, dia ngasih respon positive__kecuali gw yang ngerasaan keGRan sendiri__ kami jadi saling dekat, baik diluar maupun lewat pesan-pesan singkat elektronik atau bahasa kerennya SMS. Aku semakin yakin dia juga mencintaiku dan hanya tinggal tunggu waktu saja sampai dia menyatakan cintanya padaku, hohoho (tertawa penuh kemenangan).
Ahirnya, dia jadian dengan sahabatku.
Lho? Kok sahabatku? Bukannya aku? Pasti itu yang kalian pikirkan. Aku juga sama kagetnya dengan kalian ketika pertama kali aku mengetahui kabar kejadiannya mereka. eh, maksudnya kabar mereka jadian. Kejadian mereka? Kaya kalimat dalam kitap kejadiannya umat kristus aje :-p
Okeh, begini ceritanya. Waktu itu saking bahagianya, aku selalu pamerin si putih orang yang aku cinta pada teman-temanku, termasuk minori, sahabatku. “lihat yang baju putih itu?” aku menunjukkannya pada minory. Minory ngangguk “aku suka ma dia, cakep bangat, tipe gw bangat” aku jelas sekali memuja si putih itu. “oh,, iya, cakep sih, bagus matanya. Tajam” saat itu komentnya minori gitu doing. Dan entah mengapa tiba-tiba minory datang di kamar gw dan dengan wajah bahagia, muka merah karena malu-malu, senyum mengembang, hidung kembang-kempis karena degupan perasaannya yang meluap-luap, dia berkata “aku dah jadian ma furqan (oh ya, aku udah tau namanya) tadi malam” katanya membawa kabar dengan penuh aura kebahagiaan disekitarnya.
Aku tentu saja sempat syok, tapi gak struk apa lagi jantungan. Seper sekian detik aku berusaha menyembunyikan kekagetanku. “waah… selamat yah, ahirnya kamu dapat pacar pertama mu” ucapku memberinya selamat. Ikut bahagia dengan berita sukanya walau kecewa, heran, bingung, syok masih berkecamuk dalam hatiku.
Setelah minory pergi, aku gak bisa pura-pura tersenyum lagi. Aku heran, kenapa furqan jadian dengan minory? Padahal aku yakin, sangat yakin dia pernah bilang dalam salah satu smsnya ‘kamu sudah punya pacar? Soalnya aku gak suka ngambil pacarnya orang’ atau ‘ada sesorang yang aku suka di taek won do, bagaimana kalau orang itu adalah kamu?’ aku yakin gak salah eja kalimat itu, aku udah lulus tes baca semenjak aku masih duduk di usia TK, jadi gak mungkin aku salah baca. Saat itu yang terbersit dalam pikiranku pertama kali adalah, furqan ingin mempermainkanku, ingin merusak persahabatanku dengan minory. Dia mengatakan suka padaku tapi dia malah nembak orang lain. Apa maksudnya?! Aku harus minta penjelasannya.

Friday, 27 June 2014

CINTA TAK HARUS MEMILIKI

Cinta tak harus memiliki. Mungkin kalimat itulah yang paling pas untuk menggambarkan keadaanku sekarang. Aku jatuh cinta setengah mati dengan seseorang, dengan seluruh jiwaku aku mencintainya. Api dengan seluruh jiwa pula aku tak ingin menjadi miliknya.
Aku juga heran kenapa bisa mengalami perasaan yang seperti ini, cinta dengan segenap hati, tapi dengan segenap hati pula aku tak ingin menikah dengannya.
Aku sadar, membangun sebuah keluarga itu tidak hanya butuh cinta saja. Aku sadar betul itu. Karnanya saat ini aku benar-benar harus berusaha keras agar hatiku tidak terlalu terluka ketika harus pelan-pelan melepaskannya pergi.
Aku mengidamkan sebuah keluarga yang bahagia__aku tau semua gadis pasti memimpikan hal yang sama__ dan aku tau betul bahagia dalam keluarga itu seperti apa. Aku ingin punya suami yang dewasa, agar dy bisa bertanggung jawab, agar dy tau hak-hak dan kewajibannya sebagai suami, agar dy tau bagaimana cara membahagiakan istrinya. Dan furqan, lelaki yang setengah mati aku cintai ini, sangat jauh dari kata dewasa. Bukan karna dia belum dewasa, tapi karna begitulah adanya dia, dia terlahir dari keluarga yang memanjakannya, sehingga dia selalu mengandalkan orang lain dalam setiap keputusannya.
Dia sama sekali tidak bertanggung jawab, jika melakukan salah, tak mau minta maaf, malah bersikap seolah dia tak bersalah dan tak tau apa yang terjadi.
Dia selalu menggampangkan janji. Janji yang dia buat sendiri, aku gak marah, hanya saja aku merasa lelah menghadapi sikapnya. Dari dulu aku selalu menunggu dan memberi kesempatan, lagi, lagi, kesempatan terus, hingga dua tahun lebih hubungan kami sekarang, dia masih sama, tanpa perubahan. Seperti itulah apa adanya dia. Dia yang apa adanya seperti itu yang tak bisa aku percaya untuk memimpin keluargaku kelak.
Meskipun aku menginginkannya sepenuh jiwaku, tapi aku tetap tak boleh membiarkan hatiku tetap seperti itu. Aku harus mulai belajar untuk melepaskannya.
Aku mempikan seorang laki-laki yang bisa dipercaya, orang yang bisa membuatku merasa aman untuk menyerahkan seluruh hidupku padanya, dan itu bukan dia.
Semakin lama hubungan kami, aku semakin yakin, bahwa dia tak bisa mempimpin keluarga seperti apa yang aku idam-idamkan selama ini.
Susah. Sangat susah. Masalah hati tidak segampang mengorek kuping atau mengeluarkan upil. Hati, butuh waktu lama untuk melepaskan seseorang yang telah lama melekat didalamnya.
CINTA TAK HARUS MEMILIKI
Furqan, I love you. So much.
Kenapa kamu gak bisa berubah? Demi aku, plissss… aku sangat menginginkanmu, tapi tak kan mungkin jika kamu ttp seperti ini.

Selalu membuatku menangis, selalu melanggar janji sendiri, selalu membuatku menunggu, selalu membuatku sakit, jadi masa depan apa yang bisa kau tawarkan padaku?! NOTHING!!

Wednesday, 11 June 2014

CINTA MASA MUDA

Oyasumi mina.... ^___*

yuk mari kira bercerita lagi tentang cinta.
cinta lagi. yap, lagi-lagi tentang cinta. tentu saja cinta selalu hangat untuk diperbincangkan. sejak bumi ini tercipta, hingga kelak ahir jaman, cinta akan tetap hangat diceritakan, karna cinta akan hidup sepanjang masa.

malam ini mimin ingin berbagi cerita tentang cinta sewaktu muda. saat kita masih duduk di bangku SMP, saat kita diusia remaja, saat kita masih belia.

cinta sudah pasti sangat mempengaruhi kehidupan remaja setiap insan, baik laki-laki maupun perempuan. perasaan yang meluap-luap, ungkapan cinta yang terang-terangan, usaha pembuktian cinta, semua itu ciri khas dari cinta masa muda.

ketika masih usia remaja, kita, termasuk mimin, sangat merasakan pengaruh perasaan virus merah jambu ini dalam kehidupan sehari-hari. rasa ingin bertemu tanpa sebab, selalu datang menganggu. tapi perasaan malu dan enggan juga tak kalah kuat menggoyahkan kita. cinta memang sangat rumit untuk kita pahami saat itu.

jika sekarang mimin ingat lagi, mimin terkadang merasa sangat sangat bodoh waktu itu. waktu mimin merasakan cinta. waktu mimin menangis karna cinta, waktu mimin bahagia karena cinta.

saat itu, hal kecil seperti dia tidak membalas sms, atau dia ketiduran saat telponan tengah malam, atau dia harus mengantar ibunya arisan ketika seharusnya kencan, hal-hal kecil seperti ini sudah bisa membuat mimin menangis, sakit hati dan merasa tak dicintai lagi. hahahha... betapa bodohnya kita dulu memahami cinta.
begitupun sebaliknya, ketika dia mengirim sms yang hanya berisi i love u atau nice dream, atau cuma sepenggal lirik lagu doank, hal-hal gombal seperti ini sudah sangat menggembirakan kita waktu remaja dahulu, hahahah betapa dangkalnya pemahaman kita tentang cinta.

sekarang ketika kita dewasa, ketika mimin kini dewasa, baru mimin menyadari betapa bodohnya kelakuan mimin dulu. membuang-buang energi dan emosi hanya untuk sesuatu yang tidak jelas seperti perasaan cinta monyet itu. wakakak :D

kini mimin udah dewasa, meski mimin merasa bodoh atas semua tingkah laku mimin ketika merasakan cinta masa muda itu, tapi mimin sama sekali tidak menyesal. mimin bahagia, setidaknya mimin punya kenangan yang sangat menggelikan dahulu. setidaknya dahulu mimin sangat bersungguh-sungguh, perasaan yang mimin rasakan dahulu, meski tidak logis, tapi itu benar-benar bearasal dari hati.

semua itu bagian dari hidup mimin, sebodoh apapun mimin dahulu, tapi hal-hal seperti itulh yang telah mengantarkan mimin hingga berada disini menjadi seperti saat ini sekarang.

meski terkadang mimin senyum-senyum sendiri, mengingat betapa sedihnya atau bahagianya hati dahulu, hanya untuk seseorang yang sama sekali bukan siapa-siapanya kita. sekarang mimin sedang berusaha mencari calon suami.

Tuesday, 10 June 2014

Bukanlah Cinta

BUKANLAH CINTA

Yang aku tau hatiku mencintaimu, tapi aku sadar perasaan yang aku miliki ini bukanlah cinta seperti yang orang-orang koar-koarkan selama ini. Bukan pula cinta yang sering diceritakan dalam- dongeng-dongeng.
Yang aku alami ini bukanlah cinta seperti dalam negeri dongeng. Kisah Cinderella, putri yasmin, siburuk dan si jelita, atau cerita-cerita dalam FTV yang sekarang ini lagi naik daun, sang konglomerat jatuh cinta pada loper Koran, atau sejenisnya lah…. Semua itu hanya ada dalam imajinasiku.
Cinta. Sebenarnya aku sangat membenci perasaan ini. Karna kapan aku jatuh cinta, maka logikaku sering kali tergoyah bahkan menjadi tumpul.

Aku sangat tidak ingin jatuh cinta. Cinta membuatku bodoh.
Saat ini yang aku inginkan hanyalah lepas dari perasaan ini. Oh, aku membenci perasaan ini bukan karna aku tak menginginkan cinta. Omong kosong, semua orang butuh cinta, bahkan dalam alquran pun hal itu dijelaskan. Hanya saja, cinta seperti dalam impianku rasanya tak pernah nyata, aku memimpikan cinta sejati. Cinta yang benar-benar cinta, cinta yang tumbuh dari hati, cinta pada cinta dan saling menintai.
Aku mendambakan cinta seperti Rasullullah kepada khadijah dan begitupun sebaliknya.
Hahahah… aku tau, aku ini terlalu naïf memimpikan cinta seperti cinta yang dimiliki Rasullullah kepada Khadijah, memangnya apa istimewanya aku hingga berani memimpikan cinta yang begitu agung? Khadijah sudah jelas wanita yang sangat mengagumkan, tak sepantasnya aku ingin menyaingi dirinya dalam mendapatkan cinta!

Okelah, aku tak seluar biasa wanita pertama yang memeluk islam itu, tapi paling gak, aku ingin melihat bukti cinta yang nyata dalam kehidupan nyata.
Selama ini sepanjang perjalanan hidupku, aku belum menjumpai cinta seperti yang orang-orang ceritakan. Bahkan cinta ibu kepada anaknya. Yah,, itu episode yang berbeda, akan aku ceritakan kapan-kapan. Saat ini kita kembali dulu pada cerita tentang perasaanku terhadap seorang lawan jenisku.
Tentu saj aku memimpikan sebuah cinta. Cinta yang indah, cinta yang bahagia. Tapi entah kapan cinta itu akan dating menghampiriku.

Namanya furqan. Yah.. orang aku bicarakan dari tadi, namanya furqan.
Dialah orang yang telah menyiksaku seperti ini.
Dia terlalu bodoh untuk memahami apa yang aku rasakan terhadapnya. Karnanya aku simpulkan aku tak akan menikah dengannya. Jika aku kelak menikah dengannya aku jamin bakalan makan hati tiap hari, makan hati yang bikin kurus, bukan hati yang bikin gemuk. Hahah :D

Meskipun aku saaaaaangat-sangat bahagia selagi bersamanya, tapi dia tidak mengerti hal itu. Dia tidak mengerti arti perasaan dia hanya mengerti sesuatu seperti jam, lama waktu berkunjung, atau tujuan kenapa dia berkunjung, atau hal-hal menyebalkan sejenis itu. Dia sama sekali tidak mengerti tentang perasaan. Tentang suatu naluri. Tentang hasrat, tentang rasa sepi, tentang kekosongan, tentang kerinduan.

Aku merindukannya setiap saat. Aku tau itu salahku. Jadi bukan salahnya jika dia tidak dapat hadir ketika aku begitu merindukannya, karna aku merindukannya setiap detik. Hahaha :D karnanya aku mendesaknya untuk menikah segera, agar kami bisa selalu bersama tiap waktu. Tapi dia saat yang sama, aku juga menolak sekuat tenaga perasaanku padanya. Aku menolak menginginkannya. Aku mengingkari kemauanku dan aku berharap tak pernah bertemu dengannya.

Aku begitu teromabang ambing dalam perasaanku sendiri ini bukan karna dia tak mencintaiku, tapi karna aku tak mau dicintai olehnya.

Cintanya membuatku lemah sementara logikaku menolaknya habis-habisan. Dia bukan orang yang aku cari.
Jika sedang bersamanya, aku seribu kali lipat merindukannya dan menginginkannya menjadi suamiku. Tapi saat aku tak bersamanya, seribukali pula aku ingin melupakannya.

Jika tiap detik aku merindukannya, maka tiap detik pula aku berdoa agar aku bisa melupakannya.
Aku ingin cepat-cepat sarjana, menyelesaikan studiku dikota ini agar aku bisa cepat-cepat meninggalkan kota ini, menjauh darinya. Pergi entah kemana asalkan bukan disini, mencari kesibukanku sendiri, bertemu dengan banyak orang, mengenal banyak orang dan kembali jatuh cinta pada orang yang tepat.
Aku igngin melupakan cerita cintaku dengannya, cerita cinta yang dipenuhi air mata.

Ak ingin cinta yang bahagia, yang membuatku tetap tersenyum meski jarak memisahkan. Cinta yang mampu membuatku mencitai dengan tulus. Cinta yang bisa membuatku bahagia apapun keadaanku.

Aku tidak menyangkal kebahagiaan yang aku rasakan selama bersama furqan, hanya saja bahagianya begitu semu. Bahagia hanya ketika dia ada, jika dia pergi, lenyap pula bahagia itu. Dia adalah pelangiku.

Aku mendambakan cinta yang seperti langit kepada bumi. Apapun keadaanya tetap setia memayungi bumi.
Aku mendambakan langitku, dan furqan hanya pelangiku, yang member kebahagiaan semu.
Aku berusaha mencari jalan cintaku sendiri, tapi hingga saat ini belum ada yang benar-benar aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku.

Menikah. Menikah adalah kehidupan yang kompleks. Aku harus hati-hati menentukan siapa suamiku. Jika salah memilih, masa depanku dipertaruhkan.

aku benar-benar serba salah saat ini. Jika memang jodoh adalah cinta sejati kita. Kalo memang jodoh pasti bertemu, jika memang jodoh sudah ditetapkan oleh Allah, maka buat apa kita berinteraksi dengan orang lain dengan tujuan mecari mendamping hidup? Lalu kenapa manusi mesti resah memilih dan memilih pasangan hidup? Bukankah yang Allah pilihkan buat kita pasti sudah tentu benar dan terbaik?


Lalu, pertanyaannya. Kenapa dengan beberapa orang yang aku kenal, cantik, pintar, punya pekerjaan yang memadai (wanita) tapi hingga kini (usia 35 tahun) masih belum juga menikah? Kini dia menjadi buah bibir diantara orang-orang sekitar.

Monday, 9 June 2014

Cinta, Mengertilah

CuCo’
Curha Cinta bO’
ini dia cerita mimin malam ini. Curahan hati tentang kekasih yang tak pernah mengerti perasaan mimin.
Tentang kekasih yang terlanjur mimin cintai.
Tentang kekasih yang ingin mimin lupakan.
Tentang kekasih yang mimin harap tak pernah mengenalnya.
Tentang kekasih yang telah memberi mimin banyak janji-janji.
Tentang kekasih yang seperti pelangi.
Cinta, Mengertilah!!
Apa Kamu Benar-Benar Tidak Mengerti?
Aku harap kamu ada disini sebenarnya bukan karna aku butuh bantuanmu untuk mengerjakan tugas-tugasku, tapi lebih karna hatiku yang membutuhkanmu. Cukup kamu ada didekatku saja, aku sudah merasa sangat bahagia, merasa tenang, merasa tak kuarang suatu apapun. Tapi kenapa kamu sepertinya sama sekali tidak mengerti?
Banyak alasan yang aku buat agar aku bisa tetap bersamamu, agar kamu tetap tinggal disisiku. Tapi sepertinya kamu sama sekali tidak mengerti apa yang aku rasakan. Entah karna kamu tidak peduli, terlalu bodoh atau karna hatimu memang tidak pernah berusaha memasuki hatiku, hingga membuatmu mengerti.
Aku selalu merindukanmu, tiap minggu, tiap hari, tiap jam bahkan tiap detik, selalu dan terus merindukanmu, tak bisakah kamu mengerti?
Mungkin ini bukan cinta, karna perasaan ini begitu menyiksa.
Kata orang cinta itu anugrah. Jika memang cinta adalah anugrah, sudah pasti dia membawa kebahagiaan. Makanya aku tau bahwa yang aku rasakan ini bukanlah cinta.
Aku ingin melepaskan perasaan ini, agar aku terbebas dari perasaan yang sangat menyiksa ini. Tapi entah mengapa aku masih belum bisa melakukannya. Beberapa kali pernah kucoba, mulai dari menjauhimu, membencimu, menghilangkan jejakmu, tapi ahirnya aku sadar, bahwa dengan begitu, aku semakin menyiksa diriku.
Aku simpulkan bahwa aku tak sanggup. Aku ingin tetap bersamamu, meski begitu melelahkan mengikuti tingkahmu.
Cinta, mengertilah!!
Aku hanya ingin bersamamu, karna bersamamulah bahagiaku. Apalah artinya memiliki waktu didunia bila tak bahagia?! Karnanya aku ingin bersamamu agar waktuku didunia ini tak sia-sia belaka, aku ingin bahagia.
Kasih, mengertilah!!
Bahkan saat inipun aku sangat merindukanmu. Disaat aku sangat membencimu sekalipun, disaat aku benar-benar ingin melupakanmu pun, aku sangat merindukanmu. Rindu, rindu, sangat rindu.
Bisakah kamu menjadi langit bagiku? Bukan pelangi yang indahnya hanya sesaat!
Kamu layaknya pelangi bagiku. Indah, menwan, memberi harapan, membawa kebahagiaan. Tapi kamu begitu cepat berlalu, hilang, berlalu.
Tidakkah kamu pikir aku masih membutuhkanmu?
Tidakkah kamu peduli pada senyumku yang lenyap ketika kepergianmu?
Tapi begitulah sejatinya kamu,
Sekedar menghibur setelah duka, sekedar memberi janji, tapi tidak menemani mewujudkan janji itu.
Lalu apa lagi yang aku harapkan?
Cinta, mengertilah!!
Bertahanlah disini sebentar lagi, perhatikan tingkahku, biarkan aku bermanja-manja pada indahmu, ijinkan aku menikmati warnamu lebih lama,
Tapi seolah tak perduli, kamu pergi, memudar dan lenyap, meninggalkanku, tanpa peduli perasaanku.
Kasih, mengertilah!!
Aku merindukanmu. Aku membutuhkanmu untuk hatiku.
Kasih, ini terdengar begitu ironis,, aku membencimu karna merindukanmu, aneh bukan?


 Cerita Cinta, curhat cinta
Cinta, Mengertilah

Friday, 6 June 2014

Menjadi Mahasiswa : Kuliah Sebagai Obsesi

ERWIND EGALITE
oleh Je Basong pada 06 Juni 2011 jam 14:09
Mahasiswa di Era Kapitalisme dan Hedonisme 

Menjadi Mahasiswa : Kuliah Sebagai Obsesi
Memasuki perguruan tinggi merupakan cita-cita setiap remaja. Minat memasuki perguruan tinggi rata-rata meningkat dari tahun ke tahun. Ini membuktikan bahwa melanjutkan pendidikan tidak hanya berhenti pada tingkat SMU saja.Bahkan mulai banyak orang yang menyadari bahwa pendidikan adalah hakikat manusia dalam kehidupan, pendidikan seumur hidup (long-life education).

Bagi mereka, memasuki perguruan tinggi diiringi berbagai macam obsesi. Obsesi mencari ilmu dan pengetahuan, bisa jadi, alasan yang telah usang. Alasan utama seringkali adalah memudahkan mencari pekerjaan. Pendidikan adalah sarana yang membantu memudahkan mobilitas sosial. Dengan kuliah diharapkan akan mendapatkan pekerjaan yang berbeda dengan mereka yang hanya lulusan sekolah (SD, SMP atau SMU). Pada kenyataannya obsesi semacam itu kian hari semakin jauh dari benak para remaja yang hendak memasuki perguruan tinggi – selanjutnya akan disebut kampus.

Dalam budaya yang telah berubah ini, yang dimaksud mobilitas sosial bukan berarti berkaitan dengan masalah (mendapatkan) pekerjaan, posisi atau jabatan yang mendatangkan uang. Dalam iklim budaya kapitalistik sekarang ini, mobilitas lebih banyak bermakna perubahan gaya hidup. Menjadi mahasiswa adalah soal status yang mendefinisikan gaya hidup kaum muda yang dicirikan sebagai kaum yang bergaya hidup berbeda dibanding kaum lainnya. Gaya hidup mahasiswa adalah gaya hidup kelas menengah – bahkan juga gaya hidup kelas atas, yang dicirikan dengan kemampuannya mengonsumsi produk dan gaya hidup modern.

Apalagi muncul sebuah tendensi dimana mahasiswa tidak lagi bercitra sebagai kaum intelektual, pembela rakyat atau aktivis perubahan (agent of change). Posisi dan peran insan kampus ini mengalami titik kritis dan dipandang oleh masyarakat semakin tak jelas lagi.

Mengingkari Sejarah
Sejarah gerakan mahasiswa adalah sejarah pembebasan rakyat, sejarah perubahan bagi terciptanya keadilan sosial. Di Indonesia, gerakan mahasiswa lahir atas kondisi historis untuk menjawab kondisi penindasan bangsa.

Budaya mahasiswa saat ini berbeda dengan mahasiswa zaman dulu: malas membaca dan belajar, kecuali buku teks dengan maksud mengejar kepentingan akademik pragmatis, supaya dapat nilai formal yang baik. Kebanyakan dari mereka, dalam budaya hedonistik kapitalisme, menghambur-hamburkan uang orangtua (hasil keberhasilan status sosial dalam logika penindasan kapitalisme) dan jarang yang berpikir susah-susah. Waktu mereka hanya untuk bersenang-senang dan jelas seperti binatang yang bergerak dan hidup berdasarkan insting (kehendak). Mirip binatang, mengendus-endus produk di mall, memenuhi insting spesies makhluk (seks) dengan “pacar”, diperbudak dengan pasangannya hanya untuk menghabiskan waktu dengan “bercinta” dan membuang-buang waktu bagi cinta universal (untuk kehidupan sosial yang adil).

Pada perkembangannya, hakikat mahasiswa sebagai “siswa” yang “maha” justru terbalik: Mereka, sebagai bagian dari budaya konsumen dan “anak modal”, justru tidak hadir sebagai golongan sosial yang mampu berpikir kritis-filosofis dan tidak mampu menjadikan diri sebagai manusia yang mempertanyakan segala sesuatu (realitas sosial) untuk kemudian menjadi kekuatan perubahan bagi struktur sosial yang adil. Tentu saja hal ini menyimpang bukan hanya secara hakikat eksistensial manusia terdidik yang disebut mahasiswa, tetapi juga secara konteks sejarah gerakan mahasiswa itu sendiri.

Mahasiswa Sebagai Tumbal Kapitalisme Pasar ?
Sekarang ini, mahasiswa diasingkan dari realitas sosial dan dari kebiasaan berpikir kritis serta berilmu pengetahuan baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Dalam hal ini, kapitalisme menyerang dan membentuk mahasiswa agar ia tak lagi dapat menjadi “mahasiswa sejati”, yang belajar sungguh-sungguh dan “haus pengetahuan”, lalu beranjak membela kebenaran dan keadilan. Dengan demikian , semakin mahasiswa jauh dari ilmu pengetahuan dan aksi keberpihakan, maka upaya yang dilakukan kapitalisme untuk mempertahankan penindasannya akan berhasil.

Dari sini kita melihat bahwa munculnya gaya hidup “anti-ilmiah” dan “anti-aksi advokasi di kalangan mahasiswa bukan muncul dengan sendirinya tapi memang sengaja dibentuk. Jangan menyalahkan mahasiswa, tapi juga jangan memanjakannya. Di sisi lain, meskipun tidak berlaku pada semua mahasiswa (atau kaum muda), kapitalisme (terutama di sektor pendidikan) juga menindas secara ekonomi. Bukti penindasan tersebut adalah munculnya aksi-aksi yang masih saja terjadi soal isu mahalnya pendidikan, aksi menolak kenaikan SPP dan pungutan liar, aksi menolak komersialisasi kampus hingga menuntut pendidikan gratis, ilmiah dan demokratis. Selain itu, pendidikan kapitalis itu sendiri telah mendiskriminasi kalangan muda dalam meraih pendidikan tinggi. Berapa banyak lulusan sekolah menengah atas yang tak bisa menikmati pendidikan tinggi. Lagi-lagi, karena pendidikan mahal dan terkomersilkan, sehingga hanya anak orang kaya saja yang boleh belajar di perguruan tinggi.

Berdasarkan desain para penumpuk modal, terutama yang berlevel internasional, diharapkan kampus tidak menjadi penghalang bagi usahanya dalam mengakumulasi kapital (modal). Bahkan generasi muda dan mahasiswa dicetak untuk meraih profesi-profesi yang kelak akan mengabdikan diri pada penumpuk modal. Peran negara juga diharapkan sesuai dengan kepentingan mereka. Untuk menghilangkan kemungkinan bagi terciptanya mahasiswa-mahasiswa yang kritis dan menentang kapitalisme, negara diharuskan melakukan sistem pendidikan dan kebijaksanaan kampus yang tidak memungkinkan para mahasiswa untuk memulai perubahan. Tentu saja usaha ini juga sejalan dengan kepentingan birokrasi-birokrasi kampus yang diuntungkan jika mahasiswanya bodoh-bodoh. Kalau bisa, dibuat bagaimana mahasiswa hanya dieksploitasi dari pembayaran-pembayaran dana pendidikan yang akan menguntungkan pihak-pihak yang berkaitan. Sementara tidak pernah kemudian budaya akademis yang kritis itu digagas,

Kegiatan-kegiatan mahasiswa yang diapresiasi adalah kegiatan yang tidak memungkinkan mahasiswa berpikir, apalagi kritis dan melawan kesewenang-wenangan kampus dan “negara yang terkapitalkan”. Kita bisa lihat, kegiatan-kegiatan yang bersimbiosis dengan suatu faksi kapital akan selalu menjadi besar dan digandrungi oleh banyak mahasiswa ketimbang kegiatan yang memungkinkan mahasiswa kritis. Bola basket, cheerleaders, parade musik, paduan suara dan lain-lainnya akan selalu mendapat biaya yang besar terutama dari kekuatan kapital, dan dalam banyak kampus lebih didukung oleh pihak birokrasi. Kegiatan yang memungkinkan mahasiswa menjadi objek pemuja artis, yang membuat mahasiswa tidak bisa berpikir selain memuaskan budaya hedonisme, akan lebih melanggengkan sistem kapitalisme dan penindasannya. Sementara kegiatan-kegiatan seminar, diskusi dan ekspresi mahasiswa atas ketimpangan sosial berupa aksi akan dihadapkan dengan birokrasi yang njelimet, bahkan tidak jarang juga ditolak mentah-mentah.

Intinya, mahasiswa dan calon mahasiswa (remaja dan kaum muda) di negeri ini mengalami penindasan. Disini terdapat konstruksi gaya hidup dan budaya, meskipun bukan kontradiksi pokok, namun merupakan pintu masuk bagi kapitalis untuk bertahan dan melakukan penindasan. Kalau kaum muda bodoh dan tanpa pendidikan, kalau nalar kritis ditumpulkan dan pengetahuan dijauhkan, siapa pun akan menjadi rombongan makhluk idiot dan ‘penurut’ yang dengan begitu mudahnya diarahkan, dibentuk, dikuasai dan ditindas demi kepentingan segelintir elite (modal) yang memegang kekuasaan. Tak ada yang menyangkal, mahasiswa berada dalam kondisi dipertaruhkan.

Thursday, 5 June 2014

Goresan Tentang Cinta: Aku Ingin Menikah Segera #1

Goresan Tentang Cinta: Aku Ingin Menikah Segera #1: Aku Ingin Menikah Segera #1 Sore ini lapangan terlihat lebih ramai dari biasanya, mungkin karna hari ini weekend. Bukan saja mahasiswa ya...

Aku Ingin Menikah Segera #1

Aku Ingin Menikah Segera #1
Sore ini lapangan terlihat lebih ramai dari biasanya, mungkin karna hari ini weekend. Bukan saja mahasiswa yang bermain bola seperti biasanya setiap hari, atau muda-mudi yang sedang jogging maupun sekedar JJS untuk menghirup udara segar disore hari atau hanya untuk H2CK (Hanting-Hanting Cowok Keren) yang memenuhi lapangan, tapi terlihat pula anak-anak kecil dibeberapa pojok lapangan lengkap dengan bapak ibu mereka. Layaknya sedang piknik, sang Ibu menyiapkan bekal dan beberapa mainan anak-anaknya diatas selembar tikar yang digelar di atas rerumputan. Sedang si Ayah, tengah kejar-kejaran dengan anak-anaknya. Salah satu keluarga dipojok sana, agak dipinggir danau_ yaah, lapangan ini terletak disamping sebuah danau, karnanya tempat ini sering kali dijakan tempat wisata_keluarga itu sepertinya pasangan yang belum lama menikah, aku taksir anak pertamanya yang sedang kejar-kejaran dengan bapaknya berusia 4 tahun, sedangkan si adik yang tengah berpangku manja dipaha Ibunya baru berusia 2 tahun. Sang Ibu tersenyum bahagia melihat tingkah kedua jagoannya, si sulung dan sang suami, mereka terlihat bahagia dan saling menyayangi. Aku tersenyum kecil menyaksikan keluarga kecil itu, dahulu aku juga sangat menginginkan keluarga seperti itu bahkan sejak aku masih di bangku SMA. Tapi entah mengapa begitu sulit rasanya untuk mewujudkan impian itu. Aku bertanya-tanya bagaimana caranya agar aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan hidup bahagia seperti mereka? Tiba-tiba ingatanku melayang disaat pertama aku merasakan desakan ingin menikah.

Kilas Masa Lalu
Saat itu tahun terahirku di bangku SMA, usiaku belum lagi 16 tahun, so young, of cours J tepatnya tahun 2009 aku pertama kali memiliki pacar, sebut saja namanya Utada. Walaupun dia pacar pertamaku, tapi dia bukan cinta pertamaku. Utada laki-laki yang baik, pengertian dan selalu mengalah. Dia menjadikanku Ratu. Aku begitu bahagia dicintai olehnya, hingga rasanya ingin menikahinya agar kami tetap bersama. Cinta kami terus bersemi sampai ahirnya kami lulus SMA dan harus kuliah. Aku dan dia kuliah ditempat yang berbeda, di pulau yang berbeda. Terpaksa kami harus Long distance, dengan janji akan menjaga hati hingga impian kami untuk membentuk keluarga yang bahagia terwujud. Awalnya hubungan kami baik-baik saja. Namun ada banyak hal yang diluar kendali, miss komunikasi, kesibukan baru sebagai maba, hingga keraguan sering kali muncul. Kesibukan-kesibukanku membuat jarak diantara kami semakin melebar, sms dan telponya sering kali terabaikan. Hingga bulan ke-3 ku menjadi mahasiswa aku memutuskan hubungan dengannya dan menghilang, mengganti no hp ku dengan yang baru. Aku merasa tak ada gunanya melanjutkan hubungan ini karna semakin lama aku bersama dengannya semakin banyak kekurangannya yang aku pertimbangkan, dan kesimpulanku, dia tak akan mampu menjadi imamku kelak.
Memasuki tahun ke dua mejadi mahasiswa, aku kembali memiliki kekasih, kali ini bukanlah seseorang yang popular. Kepopuleran sudah bukan kriteriaku lagi seperti selagi masih SMA dulu,  tapi dia tipe oang yang lebih alim. Sebut saja namanya wawan. Wawasan keagamannya cukup luas dibandingkan aku. Tapi dia memiliki sifat yang sama dengan yang sebelumnya, yaitu terlalu baik hati hingga memujaku dan menjadikanku ratu. Dia selalu memanjakanku dan selalu mengalah untukku. Meski kami terpisah jarak,__kami kuliah ditempat yang berbeda, pulau yang berbeda__ tapi dia selalu berusaha sebisa mungkin untuk membantu menyelesaikan masalah-masalahku, dan membahagiakanku. Aku selalu menjadi prioritas utamanya lebih dari apapun.
Awal hubungan, kami sangat bahagia, aku mencintainya sepenuh hati dan dia juga mencintaiku sepenuh hati. Dia sering mengjaakku ke jalan yang baik, mengingatkanku akan hal-hal keagaman, benar-benar lelaki impian, calon imam yang sempurna untuk kehidupan masa depan. Dari awal pacaranpun, dia telah berkomitment bahwa dia serius, hubungan kami harus sampai ke pelaminan. Aku begitu bahagianya, membayangkan dia menjadi imam ku kelak, menjadi ayah dari anak-anakku.
Memasuki tahun kedua hubungan, kami mulai tak harmonis. Rasa bosan mulai menggelayutiku, kebiasaanya menelponku 20 jam sehari membuatku muak dan capek. Aku jadi merasa tak bisa bergerak, meski dia jauh namun terasa sangat dekat mengengkangku. Aku mulai mengacuhkan telpon-telponya. Aku mulai mencari-cari kesalahannya, banyak hal darinya yang membuatku tak puas. Dan beberapa bulan kemudian, hubungan kami berahir. Dia bukan imam yang aku cari. Lagi-lagi impian menikahku kandas.
Tak lama setelah hubunganku renggang, aku jatuh cinta. Kali ini AKU yang JATUH CINTA, aku yang menginginkannya, aku yang tertarik dengannya. Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, mereka yang berusaha meluluhkan hatiku, tapi sekarang justru aku yang berharap bisa meluluhkan hatinya.
Bisa dibilang ini adalah cinta pada pandangan pertama. Karna pertama kali aku melihatnya, aku langsung merasa tertarik padanya. Meskipun secara teknis, bukan pada kali pertama aku bertemu denganya. Karna pada kenyataannya kami sudah sering saling bertemu sebelumnya,__karna kami ada disebuah organisasi yang sama__hanya saja mungkin tidak pernah memperhatikannya sehingga aku tidak merasakan perasaan itu.
Hari itu, ketika dia menjadi pusat perhatian semua orang termasuk aku__disuatu ruangan__ saat itulah aku melihat kearahnya dan seketika aku merasakan “Zink” seperti yang dirasakan oleh romeo saat pertama kali melihat Juliet dibalik aquarium, atau seperti yang dirasakan oleh pangeran saat pertama kali melihat Cinderella di pesta dansa, kira-kira seperti itulah yang aku rasakan, dan sejak saat itu aku selalu memperhatikannya. Jujur saja ini pertama kalinya aku jatuh cinta sebelum dicintai.
Singkat cerita, takdir mempertemukan kami, menciptakan situasi yang membuat kami bisa saling mengenal dan saling berinteraksi hingga ahirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Hingga hari ini, hubungan kami baik-baik saja, sudah 2 tahun sejak kami meresmikan hubungan kami menjadi sepasang kekasih. Pada awal hubungan, kami tidak cukup harmonis, air mata sering kali kutumpahkan gara-gara dia. Sifatnya yang cuek dan tidk bertanggung jawab membuatku makan hati. Sering kali kami putus nyambung. Sudah beberapa kali aku merasa tak tahan bersam dengannya lagi, tapi cintaku padanya tak membuatku tak siap melepasnya pergi.
Sekarang, dia sudah sedikit berubah. Sifatnya yang manja dan tidak bertanggung jawab itu sedikit pudar. Aku merasa dia sedikit brusaha untuk menjadi lebih dewasa, walaupun menurutku itu belum cukup untuk mempercayakan hidupku padanya kelak.
Impian menikah itu tetap ada, tapi jujur saja bersamanya aku tidak yakin. Aku mungkin ingin sekali menikah dengannya karena cinta, tapi kedewasaanku menolak untuk menyerahkan hidupku padanya. Bagiku, dia belum cukup bisa diandalkan, belum bisa menjadi imam dan jauh dari kata siap untuk menikah. Lagi-lagi impianku unutk menikah kandas.
Aku membuat taruhan dengan hatiku sendiri. Jika sampai logikaku masih menolaknya hingga aku sarjana kelak (satu tahun lagi) aku akan memaksa hatiku untuk berhenti mencintainya dan mencoba mencintai yang lain, namun jika dia berubah dan sudah siap untuk menjadi imamku __tentu saja berdasarkan penilaianku sendiri__ sampai sebelum aku memiliki penggantinya, aku akan menjadi istrinya.
Oya, taruhan ini tidak aku ceritakan padanya. Karna ini adalah taruhan antara aku dan hatiku. Bilapun nanti aku harus pergi darinya, biarlah ini tetap menjadi rahasia. Dia tak perlu tau apa yang aku harapkan darinya, karna jika dia tidak bisa memahami apa yang aku inginkan dari seorang suami, itu artinya dia memang belum mampu untuk menjadi pemimpinku.

Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar seorang anak menangis, ternyata si sulung tersandung dan terjatuh, sang Ibu cepat-cepat menghampiri jagoan kecilnya dan mengusap lututnya yang sakit. Sang ibu berpura-pura memarahi batu ditanah yang telah menyebabkan anaknya tersandung. Dengan cepat si anak yang kini di gendong oleh bapaknya kembali tertawa ceria karna diayun-ayun oleh bapaknya seperti pesawat terbang.

Sekali lagi aku tersenyum melihat bocah-bocah itu bermain, aku tak sabar ingin memiliki keluarga bahagia seperti itu juga. Akankah seseorang itu datAng? Entah mengapa selalu orang yang tidak tepat yang kutemui. padahal aku selalu total menyiapkan diri menjadi seorang istri, menjaga hati, dan menjadi yang terbaik. tp tetap saja, ujung-ujungnya kandas. kenginan menikah harus ku kubur kembali.

Hari sebentar lagi magrib, aku buru-buru merapikan pakaianku dan segera beranjak dari tempatku menuju kamar kosku tercinta.