Thursday, 5 June 2014

Aku Ingin Menikah Segera #1

Aku Ingin Menikah Segera #1
Sore ini lapangan terlihat lebih ramai dari biasanya, mungkin karna hari ini weekend. Bukan saja mahasiswa yang bermain bola seperti biasanya setiap hari, atau muda-mudi yang sedang jogging maupun sekedar JJS untuk menghirup udara segar disore hari atau hanya untuk H2CK (Hanting-Hanting Cowok Keren) yang memenuhi lapangan, tapi terlihat pula anak-anak kecil dibeberapa pojok lapangan lengkap dengan bapak ibu mereka. Layaknya sedang piknik, sang Ibu menyiapkan bekal dan beberapa mainan anak-anaknya diatas selembar tikar yang digelar di atas rerumputan. Sedang si Ayah, tengah kejar-kejaran dengan anak-anaknya. Salah satu keluarga dipojok sana, agak dipinggir danau_ yaah, lapangan ini terletak disamping sebuah danau, karnanya tempat ini sering kali dijakan tempat wisata_keluarga itu sepertinya pasangan yang belum lama menikah, aku taksir anak pertamanya yang sedang kejar-kejaran dengan bapaknya berusia 4 tahun, sedangkan si adik yang tengah berpangku manja dipaha Ibunya baru berusia 2 tahun. Sang Ibu tersenyum bahagia melihat tingkah kedua jagoannya, si sulung dan sang suami, mereka terlihat bahagia dan saling menyayangi. Aku tersenyum kecil menyaksikan keluarga kecil itu, dahulu aku juga sangat menginginkan keluarga seperti itu bahkan sejak aku masih di bangku SMA. Tapi entah mengapa begitu sulit rasanya untuk mewujudkan impian itu. Aku bertanya-tanya bagaimana caranya agar aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan hidup bahagia seperti mereka? Tiba-tiba ingatanku melayang disaat pertama aku merasakan desakan ingin menikah.

Kilas Masa Lalu
Saat itu tahun terahirku di bangku SMA, usiaku belum lagi 16 tahun, so young, of cours J tepatnya tahun 2009 aku pertama kali memiliki pacar, sebut saja namanya Utada. Walaupun dia pacar pertamaku, tapi dia bukan cinta pertamaku. Utada laki-laki yang baik, pengertian dan selalu mengalah. Dia menjadikanku Ratu. Aku begitu bahagia dicintai olehnya, hingga rasanya ingin menikahinya agar kami tetap bersama. Cinta kami terus bersemi sampai ahirnya kami lulus SMA dan harus kuliah. Aku dan dia kuliah ditempat yang berbeda, di pulau yang berbeda. Terpaksa kami harus Long distance, dengan janji akan menjaga hati hingga impian kami untuk membentuk keluarga yang bahagia terwujud. Awalnya hubungan kami baik-baik saja. Namun ada banyak hal yang diluar kendali, miss komunikasi, kesibukan baru sebagai maba, hingga keraguan sering kali muncul. Kesibukan-kesibukanku membuat jarak diantara kami semakin melebar, sms dan telponya sering kali terabaikan. Hingga bulan ke-3 ku menjadi mahasiswa aku memutuskan hubungan dengannya dan menghilang, mengganti no hp ku dengan yang baru. Aku merasa tak ada gunanya melanjutkan hubungan ini karna semakin lama aku bersama dengannya semakin banyak kekurangannya yang aku pertimbangkan, dan kesimpulanku, dia tak akan mampu menjadi imamku kelak.
Memasuki tahun ke dua mejadi mahasiswa, aku kembali memiliki kekasih, kali ini bukanlah seseorang yang popular. Kepopuleran sudah bukan kriteriaku lagi seperti selagi masih SMA dulu,  tapi dia tipe oang yang lebih alim. Sebut saja namanya wawan. Wawasan keagamannya cukup luas dibandingkan aku. Tapi dia memiliki sifat yang sama dengan yang sebelumnya, yaitu terlalu baik hati hingga memujaku dan menjadikanku ratu. Dia selalu memanjakanku dan selalu mengalah untukku. Meski kami terpisah jarak,__kami kuliah ditempat yang berbeda, pulau yang berbeda__ tapi dia selalu berusaha sebisa mungkin untuk membantu menyelesaikan masalah-masalahku, dan membahagiakanku. Aku selalu menjadi prioritas utamanya lebih dari apapun.
Awal hubungan, kami sangat bahagia, aku mencintainya sepenuh hati dan dia juga mencintaiku sepenuh hati. Dia sering mengjaakku ke jalan yang baik, mengingatkanku akan hal-hal keagaman, benar-benar lelaki impian, calon imam yang sempurna untuk kehidupan masa depan. Dari awal pacaranpun, dia telah berkomitment bahwa dia serius, hubungan kami harus sampai ke pelaminan. Aku begitu bahagianya, membayangkan dia menjadi imam ku kelak, menjadi ayah dari anak-anakku.
Memasuki tahun kedua hubungan, kami mulai tak harmonis. Rasa bosan mulai menggelayutiku, kebiasaanya menelponku 20 jam sehari membuatku muak dan capek. Aku jadi merasa tak bisa bergerak, meski dia jauh namun terasa sangat dekat mengengkangku. Aku mulai mengacuhkan telpon-telponya. Aku mulai mencari-cari kesalahannya, banyak hal darinya yang membuatku tak puas. Dan beberapa bulan kemudian, hubungan kami berahir. Dia bukan imam yang aku cari. Lagi-lagi impian menikahku kandas.
Tak lama setelah hubunganku renggang, aku jatuh cinta. Kali ini AKU yang JATUH CINTA, aku yang menginginkannya, aku yang tertarik dengannya. Berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, mereka yang berusaha meluluhkan hatiku, tapi sekarang justru aku yang berharap bisa meluluhkan hatinya.
Bisa dibilang ini adalah cinta pada pandangan pertama. Karna pertama kali aku melihatnya, aku langsung merasa tertarik padanya. Meskipun secara teknis, bukan pada kali pertama aku bertemu denganya. Karna pada kenyataannya kami sudah sering saling bertemu sebelumnya,__karna kami ada disebuah organisasi yang sama__hanya saja mungkin tidak pernah memperhatikannya sehingga aku tidak merasakan perasaan itu.
Hari itu, ketika dia menjadi pusat perhatian semua orang termasuk aku__disuatu ruangan__ saat itulah aku melihat kearahnya dan seketika aku merasakan “Zink” seperti yang dirasakan oleh romeo saat pertama kali melihat Juliet dibalik aquarium, atau seperti yang dirasakan oleh pangeran saat pertama kali melihat Cinderella di pesta dansa, kira-kira seperti itulah yang aku rasakan, dan sejak saat itu aku selalu memperhatikannya. Jujur saja ini pertama kalinya aku jatuh cinta sebelum dicintai.
Singkat cerita, takdir mempertemukan kami, menciptakan situasi yang membuat kami bisa saling mengenal dan saling berinteraksi hingga ahirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Hingga hari ini, hubungan kami baik-baik saja, sudah 2 tahun sejak kami meresmikan hubungan kami menjadi sepasang kekasih. Pada awal hubungan, kami tidak cukup harmonis, air mata sering kali kutumpahkan gara-gara dia. Sifatnya yang cuek dan tidk bertanggung jawab membuatku makan hati. Sering kali kami putus nyambung. Sudah beberapa kali aku merasa tak tahan bersam dengannya lagi, tapi cintaku padanya tak membuatku tak siap melepasnya pergi.
Sekarang, dia sudah sedikit berubah. Sifatnya yang manja dan tidak bertanggung jawab itu sedikit pudar. Aku merasa dia sedikit brusaha untuk menjadi lebih dewasa, walaupun menurutku itu belum cukup untuk mempercayakan hidupku padanya kelak.
Impian menikah itu tetap ada, tapi jujur saja bersamanya aku tidak yakin. Aku mungkin ingin sekali menikah dengannya karena cinta, tapi kedewasaanku menolak untuk menyerahkan hidupku padanya. Bagiku, dia belum cukup bisa diandalkan, belum bisa menjadi imam dan jauh dari kata siap untuk menikah. Lagi-lagi impianku unutk menikah kandas.
Aku membuat taruhan dengan hatiku sendiri. Jika sampai logikaku masih menolaknya hingga aku sarjana kelak (satu tahun lagi) aku akan memaksa hatiku untuk berhenti mencintainya dan mencoba mencintai yang lain, namun jika dia berubah dan sudah siap untuk menjadi imamku __tentu saja berdasarkan penilaianku sendiri__ sampai sebelum aku memiliki penggantinya, aku akan menjadi istrinya.
Oya, taruhan ini tidak aku ceritakan padanya. Karna ini adalah taruhan antara aku dan hatiku. Bilapun nanti aku harus pergi darinya, biarlah ini tetap menjadi rahasia. Dia tak perlu tau apa yang aku harapkan darinya, karna jika dia tidak bisa memahami apa yang aku inginkan dari seorang suami, itu artinya dia memang belum mampu untuk menjadi pemimpinku.

Aku tersadar dari lamunanku ketika mendengar seorang anak menangis, ternyata si sulung tersandung dan terjatuh, sang Ibu cepat-cepat menghampiri jagoan kecilnya dan mengusap lututnya yang sakit. Sang ibu berpura-pura memarahi batu ditanah yang telah menyebabkan anaknya tersandung. Dengan cepat si anak yang kini di gendong oleh bapaknya kembali tertawa ceria karna diayun-ayun oleh bapaknya seperti pesawat terbang.

Sekali lagi aku tersenyum melihat bocah-bocah itu bermain, aku tak sabar ingin memiliki keluarga bahagia seperti itu juga. Akankah seseorang itu datAng? Entah mengapa selalu orang yang tidak tepat yang kutemui. padahal aku selalu total menyiapkan diri menjadi seorang istri, menjaga hati, dan menjadi yang terbaik. tp tetap saja, ujung-ujungnya kandas. kenginan menikah harus ku kubur kembali.

Hari sebentar lagi magrib, aku buru-buru merapikan pakaianku dan segera beranjak dari tempatku menuju kamar kosku tercinta.


No comments:

Post a Comment