Aku Ingin Menikah Segera #1
Sore ini lapangan terlihat
lebih ramai dari biasanya, mungkin karna hari ini weekend. Bukan saja mahasiswa
yang bermain bola seperti biasanya setiap hari, atau muda-mudi yang sedang jogging
maupun sekedar JJS untuk menghirup udara segar disore hari atau hanya untuk
H2CK (Hanting-Hanting Cowok Keren) yang memenuhi lapangan, tapi terlihat pula
anak-anak kecil dibeberapa pojok lapangan lengkap dengan bapak ibu mereka. Layaknya
sedang piknik, sang Ibu menyiapkan bekal dan beberapa mainan anak-anaknya diatas
selembar tikar yang digelar di atas rerumputan. Sedang si Ayah, tengah
kejar-kejaran dengan anak-anaknya. Salah satu keluarga dipojok sana, agak
dipinggir danau_ yaah, lapangan ini terletak disamping sebuah danau, karnanya
tempat ini sering kali dijakan tempat wisata_keluarga itu sepertinya pasangan
yang belum lama menikah, aku taksir anak pertamanya yang sedang kejar-kejaran
dengan bapaknya berusia 4 tahun, sedangkan si adik yang tengah berpangku manja
dipaha Ibunya baru berusia 2 tahun. Sang Ibu tersenyum bahagia melihat tingkah
kedua jagoannya, si sulung dan sang suami, mereka terlihat bahagia dan saling
menyayangi. Aku tersenyum kecil menyaksikan keluarga kecil itu, dahulu aku juga
sangat menginginkan keluarga seperti itu bahkan sejak aku masih di bangku SMA. Tapi
entah mengapa begitu sulit rasanya untuk mewujudkan impian itu. Aku bertanya-tanya
bagaimana caranya agar aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai dan hidup
bahagia seperti mereka? Tiba-tiba ingatanku melayang disaat pertama aku
merasakan desakan ingin menikah.
Kilas
Masa Lalu
Saat itu tahun terahirku di bangku
SMA, usiaku belum lagi 16 tahun, so young, of cours J tepatnya tahun 2009 aku pertama kali
memiliki pacar, sebut saja namanya Utada. Walaupun dia pacar pertamaku, tapi
dia bukan cinta pertamaku. Utada laki-laki yang baik, pengertian dan selalu
mengalah. Dia menjadikanku Ratu. Aku begitu bahagia dicintai olehnya, hingga
rasanya ingin menikahinya agar kami tetap bersama. Cinta kami terus bersemi
sampai ahirnya kami lulus SMA dan harus kuliah. Aku dan dia kuliah ditempat
yang berbeda, di pulau yang berbeda. Terpaksa kami harus Long distance, dengan
janji akan menjaga hati hingga impian kami untuk membentuk keluarga yang
bahagia terwujud. Awalnya hubungan kami baik-baik saja. Namun ada banyak hal
yang diluar kendali, miss komunikasi, kesibukan baru sebagai maba, hingga
keraguan sering kali muncul. Kesibukan-kesibukanku membuat jarak diantara kami
semakin melebar, sms dan telponya sering kali terabaikan. Hingga bulan ke-3 ku
menjadi mahasiswa aku memutuskan hubungan dengannya dan menghilang, mengganti
no hp ku dengan yang baru. Aku merasa tak ada gunanya melanjutkan hubungan ini
karna semakin lama aku bersama dengannya semakin banyak kekurangannya yang aku
pertimbangkan, dan kesimpulanku, dia tak akan mampu menjadi imamku kelak.
Memasuki tahun ke dua mejadi
mahasiswa, aku kembali memiliki kekasih, kali ini bukanlah seseorang yang popular.
Kepopuleran sudah bukan kriteriaku lagi seperti selagi masih SMA dulu, tapi dia tipe oang yang lebih alim. Sebut saja
namanya wawan. Wawasan keagamannya cukup luas dibandingkan aku. Tapi dia
memiliki sifat yang sama dengan yang sebelumnya, yaitu terlalu baik hati hingga
memujaku dan menjadikanku ratu. Dia selalu memanjakanku dan selalu mengalah
untukku. Meski kami terpisah jarak,__kami kuliah ditempat yang berbeda, pulau
yang berbeda__ tapi dia selalu berusaha sebisa mungkin untuk membantu
menyelesaikan masalah-masalahku, dan membahagiakanku. Aku selalu menjadi
prioritas utamanya lebih dari apapun.
Awal hubungan, kami sangat bahagia,
aku mencintainya sepenuh hati dan dia juga mencintaiku sepenuh hati. Dia sering
mengjaakku ke jalan yang baik, mengingatkanku akan hal-hal keagaman,
benar-benar lelaki impian, calon imam yang sempurna untuk kehidupan masa depan.
Dari awal pacaranpun, dia telah berkomitment bahwa dia serius, hubungan kami
harus sampai ke pelaminan. Aku begitu bahagianya, membayangkan dia menjadi imam
ku kelak, menjadi ayah dari anak-anakku.
Memasuki tahun kedua hubungan, kami
mulai tak harmonis. Rasa bosan mulai menggelayutiku, kebiasaanya menelponku 20
jam sehari membuatku muak dan capek. Aku jadi merasa tak bisa bergerak, meski
dia jauh namun terasa sangat dekat mengengkangku. Aku mulai mengacuhkan
telpon-telponya. Aku mulai mencari-cari kesalahannya, banyak hal darinya yang
membuatku tak puas. Dan beberapa bulan kemudian, hubungan kami berahir. Dia bukan
imam yang aku cari. Lagi-lagi impian menikahku kandas.
Tak lama setelah hubunganku renggang,
aku jatuh cinta. Kali ini AKU yang JATUH CINTA, aku yang
menginginkannya, aku yang tertarik dengannya. Berbeda dengan yang
sebelum-sebelumnya, mereka yang berusaha meluluhkan hatiku, tapi sekarang
justru aku yang berharap bisa meluluhkan hatinya.
Bisa dibilang ini adalah cinta pada
pandangan pertama. Karna pertama kali aku melihatnya, aku langsung merasa
tertarik padanya. Meskipun secara teknis, bukan pada kali pertama aku bertemu
denganya. Karna pada kenyataannya kami sudah sering saling bertemu
sebelumnya,__karna kami ada disebuah organisasi yang sama__hanya saja mungkin
tidak pernah memperhatikannya sehingga aku tidak merasakan perasaan itu.
Hari itu, ketika dia menjadi pusat
perhatian semua orang termasuk aku__disuatu ruangan__ saat itulah aku melihat
kearahnya dan seketika aku merasakan “Zink” seperti yang dirasakan oleh romeo
saat pertama kali melihat Juliet dibalik aquarium, atau seperti yang dirasakan
oleh pangeran saat pertama kali melihat Cinderella di pesta dansa, kira-kira
seperti itulah yang aku rasakan, dan sejak saat itu aku selalu
memperhatikannya. Jujur saja ini pertama kalinya aku jatuh cinta sebelum
dicintai.
Singkat cerita, takdir mempertemukan
kami, menciptakan situasi yang membuat kami bisa saling mengenal dan saling
berinteraksi hingga ahirnya kami menjadi sepasang kekasih.
Hingga hari ini, hubungan kami
baik-baik saja, sudah 2 tahun sejak kami meresmikan hubungan kami menjadi
sepasang kekasih. Pada awal hubungan, kami tidak cukup harmonis, air mata
sering kali kutumpahkan gara-gara dia. Sifatnya yang cuek dan tidk bertanggung
jawab membuatku makan hati. Sering kali kami putus nyambung. Sudah beberapa
kali aku merasa tak tahan bersam dengannya lagi, tapi cintaku padanya tak
membuatku tak siap melepasnya pergi.
Sekarang, dia sudah sedikit berubah. Sifatnya
yang manja dan tidak bertanggung jawab itu sedikit pudar. Aku merasa dia
sedikit brusaha untuk menjadi lebih dewasa, walaupun menurutku itu belum cukup
untuk mempercayakan hidupku padanya kelak.
Impian menikah itu tetap ada, tapi
jujur saja bersamanya aku tidak yakin. Aku mungkin ingin sekali menikah
dengannya karena cinta, tapi kedewasaanku menolak untuk menyerahkan hidupku
padanya. Bagiku, dia belum cukup bisa diandalkan, belum bisa menjadi imam dan
jauh dari kata siap untuk menikah. Lagi-lagi impianku unutk menikah kandas.
Aku membuat taruhan dengan hatiku
sendiri. Jika sampai logikaku masih menolaknya hingga aku sarjana kelak (satu
tahun lagi) aku akan memaksa hatiku untuk berhenti mencintainya dan mencoba
mencintai yang lain, namun jika dia berubah dan sudah siap untuk menjadi imamku
__tentu saja berdasarkan penilaianku sendiri__ sampai sebelum aku memiliki
penggantinya, aku akan menjadi istrinya.
Oya, taruhan ini tidak aku ceritakan
padanya. Karna ini adalah taruhan antara aku dan hatiku. Bilapun nanti aku
harus pergi darinya, biarlah ini tetap menjadi rahasia. Dia tak perlu tau apa
yang aku harapkan darinya, karna jika dia tidak bisa memahami apa yang aku
inginkan dari seorang suami, itu artinya dia memang belum mampu untuk menjadi
pemimpinku.
Aku tersadar dari lamunanku ketika
mendengar seorang anak menangis, ternyata si sulung tersandung dan terjatuh,
sang Ibu cepat-cepat menghampiri jagoan kecilnya dan mengusap lututnya yang
sakit. Sang ibu berpura-pura memarahi batu ditanah yang telah menyebabkan
anaknya tersandung. Dengan cepat si anak yang kini di gendong oleh bapaknya
kembali tertawa ceria karna diayun-ayun oleh bapaknya seperti pesawat
terbang.
Sekali lagi aku tersenyum melihat
bocah-bocah itu bermain, aku tak sabar ingin memiliki keluarga bahagia seperti
itu juga. Akankah seseorang itu datAng? Entah mengapa selalu orang yang tidak
tepat yang kutemui. padahal aku selalu total menyiapkan diri menjadi seorang istri, menjaga hati, dan menjadi yang terbaik. tp tetap saja, ujung-ujungnya kandas. kenginan menikah harus ku kubur kembali.
Hari sebentar lagi magrib, aku
buru-buru merapikan pakaianku dan segera beranjak dari tempatku menuju kamar
kosku tercinta.
No comments:
Post a Comment