Tuesday, 10 June 2014

Bukanlah Cinta

BUKANLAH CINTA

Yang aku tau hatiku mencintaimu, tapi aku sadar perasaan yang aku miliki ini bukanlah cinta seperti yang orang-orang koar-koarkan selama ini. Bukan pula cinta yang sering diceritakan dalam- dongeng-dongeng.
Yang aku alami ini bukanlah cinta seperti dalam negeri dongeng. Kisah Cinderella, putri yasmin, siburuk dan si jelita, atau cerita-cerita dalam FTV yang sekarang ini lagi naik daun, sang konglomerat jatuh cinta pada loper Koran, atau sejenisnya lah…. Semua itu hanya ada dalam imajinasiku.
Cinta. Sebenarnya aku sangat membenci perasaan ini. Karna kapan aku jatuh cinta, maka logikaku sering kali tergoyah bahkan menjadi tumpul.

Aku sangat tidak ingin jatuh cinta. Cinta membuatku bodoh.
Saat ini yang aku inginkan hanyalah lepas dari perasaan ini. Oh, aku membenci perasaan ini bukan karna aku tak menginginkan cinta. Omong kosong, semua orang butuh cinta, bahkan dalam alquran pun hal itu dijelaskan. Hanya saja, cinta seperti dalam impianku rasanya tak pernah nyata, aku memimpikan cinta sejati. Cinta yang benar-benar cinta, cinta yang tumbuh dari hati, cinta pada cinta dan saling menintai.
Aku mendambakan cinta seperti Rasullullah kepada khadijah dan begitupun sebaliknya.
Hahahah… aku tau, aku ini terlalu naïf memimpikan cinta seperti cinta yang dimiliki Rasullullah kepada Khadijah, memangnya apa istimewanya aku hingga berani memimpikan cinta yang begitu agung? Khadijah sudah jelas wanita yang sangat mengagumkan, tak sepantasnya aku ingin menyaingi dirinya dalam mendapatkan cinta!

Okelah, aku tak seluar biasa wanita pertama yang memeluk islam itu, tapi paling gak, aku ingin melihat bukti cinta yang nyata dalam kehidupan nyata.
Selama ini sepanjang perjalanan hidupku, aku belum menjumpai cinta seperti yang orang-orang ceritakan. Bahkan cinta ibu kepada anaknya. Yah,, itu episode yang berbeda, akan aku ceritakan kapan-kapan. Saat ini kita kembali dulu pada cerita tentang perasaanku terhadap seorang lawan jenisku.
Tentu saj aku memimpikan sebuah cinta. Cinta yang indah, cinta yang bahagia. Tapi entah kapan cinta itu akan dating menghampiriku.

Namanya furqan. Yah.. orang aku bicarakan dari tadi, namanya furqan.
Dialah orang yang telah menyiksaku seperti ini.
Dia terlalu bodoh untuk memahami apa yang aku rasakan terhadapnya. Karnanya aku simpulkan aku tak akan menikah dengannya. Jika aku kelak menikah dengannya aku jamin bakalan makan hati tiap hari, makan hati yang bikin kurus, bukan hati yang bikin gemuk. Hahah :D

Meskipun aku saaaaaangat-sangat bahagia selagi bersamanya, tapi dia tidak mengerti hal itu. Dia tidak mengerti arti perasaan dia hanya mengerti sesuatu seperti jam, lama waktu berkunjung, atau tujuan kenapa dia berkunjung, atau hal-hal menyebalkan sejenis itu. Dia sama sekali tidak mengerti tentang perasaan. Tentang suatu naluri. Tentang hasrat, tentang rasa sepi, tentang kekosongan, tentang kerinduan.

Aku merindukannya setiap saat. Aku tau itu salahku. Jadi bukan salahnya jika dia tidak dapat hadir ketika aku begitu merindukannya, karna aku merindukannya setiap detik. Hahaha :D karnanya aku mendesaknya untuk menikah segera, agar kami bisa selalu bersama tiap waktu. Tapi dia saat yang sama, aku juga menolak sekuat tenaga perasaanku padanya. Aku menolak menginginkannya. Aku mengingkari kemauanku dan aku berharap tak pernah bertemu dengannya.

Aku begitu teromabang ambing dalam perasaanku sendiri ini bukan karna dia tak mencintaiku, tapi karna aku tak mau dicintai olehnya.

Cintanya membuatku lemah sementara logikaku menolaknya habis-habisan. Dia bukan orang yang aku cari.
Jika sedang bersamanya, aku seribu kali lipat merindukannya dan menginginkannya menjadi suamiku. Tapi saat aku tak bersamanya, seribukali pula aku ingin melupakannya.

Jika tiap detik aku merindukannya, maka tiap detik pula aku berdoa agar aku bisa melupakannya.
Aku ingin cepat-cepat sarjana, menyelesaikan studiku dikota ini agar aku bisa cepat-cepat meninggalkan kota ini, menjauh darinya. Pergi entah kemana asalkan bukan disini, mencari kesibukanku sendiri, bertemu dengan banyak orang, mengenal banyak orang dan kembali jatuh cinta pada orang yang tepat.
Aku igngin melupakan cerita cintaku dengannya, cerita cinta yang dipenuhi air mata.

Ak ingin cinta yang bahagia, yang membuatku tetap tersenyum meski jarak memisahkan. Cinta yang mampu membuatku mencitai dengan tulus. Cinta yang bisa membuatku bahagia apapun keadaanku.

Aku tidak menyangkal kebahagiaan yang aku rasakan selama bersama furqan, hanya saja bahagianya begitu semu. Bahagia hanya ketika dia ada, jika dia pergi, lenyap pula bahagia itu. Dia adalah pelangiku.

Aku mendambakan cinta yang seperti langit kepada bumi. Apapun keadaanya tetap setia memayungi bumi.
Aku mendambakan langitku, dan furqan hanya pelangiku, yang member kebahagiaan semu.
Aku berusaha mencari jalan cintaku sendiri, tapi hingga saat ini belum ada yang benar-benar aku inginkan untuk menjadi pendamping hidupku.

Menikah. Menikah adalah kehidupan yang kompleks. Aku harus hati-hati menentukan siapa suamiku. Jika salah memilih, masa depanku dipertaruhkan.

aku benar-benar serba salah saat ini. Jika memang jodoh adalah cinta sejati kita. Kalo memang jodoh pasti bertemu, jika memang jodoh sudah ditetapkan oleh Allah, maka buat apa kita berinteraksi dengan orang lain dengan tujuan mecari mendamping hidup? Lalu kenapa manusi mesti resah memilih dan memilih pasangan hidup? Bukankah yang Allah pilihkan buat kita pasti sudah tentu benar dan terbaik?


Lalu, pertanyaannya. Kenapa dengan beberapa orang yang aku kenal, cantik, pintar, punya pekerjaan yang memadai (wanita) tapi hingga kini (usia 35 tahun) masih belum juga menikah? Kini dia menjadi buah bibir diantara orang-orang sekitar.

No comments:

Post a Comment