Monday, 30 June 2014

Bayangan Masa Lalu

Bayangan Masa lalu
Siang itu dera tampak capek, terlihat dari peluhnya yang meleleh sekitar wajahnya. Seharian ini dia harus mengoreksi setumpuk buku PR murid-muridnya diruang guru yang tak ber-AC itu, maklum dera bekerja disebuah Sekolah Dasar didaerah terpencil jadi wajar saja bila fasilitasnya masih sangat minim jika tidak mau dibilang tidak memadai. Tapi Dera sangat bersyukur diterima bekerja sebagai Guru Matematika di SD itu. Bukan karna tidak ada suatu alas an khusus dea memilih tempat terpencil seperti itu.
Setahun yang lalu, ketika Dera resmi menyandang gelar S.T nya, Dera sudah memutuskan akan mengabdi didaerah yang jauh sebagai Guru, sejauh yang bisa dia jangkau dari kota tempatnya menghabiskan waktu sekitar lima tahun terahir ini, kota jogja. Alhasil, sekarang dia terdampar disekolah menyedihkan ini, sekolah dasar di NTT, kabupaten waingapu­. Sekolah itu terletak sekitar 100 KM dari kota. Desa ini masih sangat primitive, jangankan AC, air bersih saja masih sangat susah didapatkan.
Keputusan untuk pergi jauh ini terpaksa Dera ambil karena ingin menata kembali hatinya. Saat itu hatinya sangat terluka akibat seseorang. Tepatnya tiga tahun yang lalu, ketika dera masuk tahun ke empat studynya.
Kilasan masa lalu….
“sayang, lagi dimana?” Dera tersenyum malu-malu membaca sms dari kekasih hatinya, dengan cepat ditekanya tombol balas dan segera mengetik “di kampus. Kenapa?”
Beberapa detik HPnya sudah bergetar kembali
“jamberapa kuliahnya selse? Aku jemput yah”
“sekitar 15-an menit lagi. Okeh”
Dera yang merasa bahagia melmbung, dengan gelisah melanjutkan kuliah hari itu. Dia ingin segera keluar kelas dan bertemu dengan kekasihnya tercinta. Rindu yang telah mnggunung selama sebulan ini ingin segera dia lampiaskan. Selama sebulan mereka tak bertemu tatap muka karna Erik, kekasihnya, harus berangkat ke Jepang dalam rangka perjalanan studi. Erik yang kebetulan seorang mahasiswa jurusan kebudayaan asing itu harus melakukan penelitian selama sebulan di Jepang bersama dosen pembimbingnya.
Lima belas menit berlalu, Dera segera merapikan buku-bukunya dan duduk manis depan jurusannya. Menunggu erik tersayang.
“eh, Ra, dengar-dengar erik udah balik yah dari Jepang?” salah satu temannya menghampiri.
“iya, tadi malam” Dera mengangguk sambil tersenyum
“cieee…. Yang lagi nungguen pacar. Yang udah kangennya gak ketulungan..” isty, sahabatnya menggodanya.
“apaan sih, biasa aja” ucap dera menutupi perasaannya yang nyatanya sedang menggebu-gebu tak karuan
“tuh…. Mukanya merah…. Senyumnya malu-malu gitu..” isty masih saja menggodanya. Membuat Dera semakin salah tingkah.
Lewat dua puluh menit, erik belum juga kelihatan. Isty sudah pulang sejak tadi. Buru-buru katanya. Hari semakin sore, Dera kini sendirian, kampus semakin sepi, tapi erikc belum juga muncul.
Dera mulai jengkel. Dia lalu mengambil HPnya bermaksud untuk menghubungi erik. Ah sial, Hp-nya lowbat. Komplit sudah rasa dongkol dihatinya Dera.
Dia mulai ngedumal dalam hatinya. “kalo emang gak niat datang, ya jangan biarin aku nunggu gini donk. Apa susahnya sih tinggal sms bilang ‘maaf sayang, aku gak jd datang, ada yang harus aku urus’ ato gak tinggal bilang kan ‘aku gak jd datang, jangan tunggu’ emangnya susah ya? Dia tau gak sih kalo aku nunggu?” Dera memutuskan untuk pulang dan berjanji akan marah-marah ntar kalu ketemu dengan erik.
Sesampainya dirumah, Dera langsung menuju kamar mandi, mandi, ingin mendinginkan kepala. Seperti kebiasaannya kalo lagi jengkel, Dera mencari-cari es krim dalam kulkas. Makan es krim rasa coklat memang sangat membatu meredakan emosi dihatinya Dera.
Tengah menikmati eskrim sambil nonton, tiba-tiba dia teringat Hp nya yang lobat sejak sore tadi. Rasa jengkelnya pada erik telah reda, digantikan dengan rasa kangen. Makanya dengan segera dera men-cas Hp-nya, siapa tau erik akan menelponnya dan meminta maaf. Dera sangat menikmati permintaaf maaf dari erik. karna jika Dera marah, biasanya erik sadi sangat manis dan romantis. Dia jadi sangat memanjakan dera. Karnanya sering kali dera pura-pura marah walaupun sebenarnya dia sudah tak merasa emosi lagi.
Baru saja Hp dinyalain, hp nya bordering, telpon masuk. Dari erik. dengan mimic pura-pura ngambek, dera mengangkat telponnya. “Halo, rik kamu tadi kemana? Kok kamu biarin aku nung….” Dera tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karna diseberang justru terdengar suara isak tangis.
“halo?” ucap dera heran.
“halo, dera. Ini aku kak, ai” ternyata adekny Erik yang menelpon mengunakan hp-nya erik. dera merasa ada yang salah. Tiba-tiba perasaan tidak menentu, antara takut dan bingung. Dia sendiri tidak tau apa yang ditakutkannya. Firasat buruk menguasainya.
Dera tak mampu berkata-kata. Ai yang tak mendengar apapun, langsung melanjukan “kak Dera, Kak Erik udah gak ada. Kak erik kecelakaan kak” ai mengatakannya dengan deraian air mata.
Dera tidak tau harus berbuat apa. Tiba-tiba air matanya tumpah ruah. Emosinya tak karuan. Dia lalu menangis meraung-raung. “erik….” perasaannya benar-benar terluka, dera tak mengerti apa yang terjadi, satu hal yang dia rasakan, sakit yang termat dalam dari hatinya. Isty, yang ternyata telah mendengar kabar duka tersebut, langsung mendatangi rumah Dera. Bersambung..... Tunggu cerita selanjutnya yaaahhhh..... :)

No comments:

Post a Comment